Kota Probolinggo,– Potensi perkebunan di Kota Probolinggo, terus tumbuh. Di Kelurahan Wonoasih, Kecamatan Wonoasih misalnya, terdapat perkebunan pisang Cavendish kualitas ekspor.

Lokasi perkebunan pisang Cavendish ini berada di RT/07 RW/03 dengan luas lahan 2.500 meter persegi. Sekitar 280 pohon pisang di dalamnya dikelola oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Yayasan Panti Asuhan Al Umah.

Pisang cavendish yang dibudidayakan di kawasan tersebut telah dua kali panen. Perlahan tapi pasti, hasil perkebunan di kawasan ini menjadi salah satu komoditas unggulan baru di wilayah selatan Kota Probolinggo.

“Jadi pisang Cavendish ini akan kita tetapkan sebagai komoditas utama, disamping padi dan jagung. Hal ini tidak lepas dari kebutuhan warga akan pisang yang telah menjadi konsumsi harian,” kata Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin saat ikut panen raya pisang cavendish di kebun tersebut, Kamis (14/5/26).

Area kebun ini dikelola dengan sistem bagi hasil bersama warga setempat. Sebab produktivitas pisang cavendish cukup menjanjikan karena hasil panen dapat mencapai tonase besar dalam waktu singkat.

Disamping itu, kerjasama antara pemerintah daerah daerah dan LKSA Al Umah menjadi bentuk keseriusan dalam pengembangan ‘urban framing’ atau perkebunan kota berbasis masyarakat di Kota Probolinggo.

“Ke depan kami juga akan membagikan bibit kepada masyarakat. Nantinya ada pembinaan dari Al-Umah bersama DKPPP, termasuk pemanfaatan dari pohon pisang yang sudah dipotong agar tidak terbuang sia-sia,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Panti Asuhan Al Umah, Ustaz Sanip mengatakan, pihaknya saat ini memiliki sekitar 4 hektar lahan pisang cavendish dengan masa panen hampir setiap dua minggu sekali.

“Alhamdulillah saat ini kami memiliki sekitar 4 hektar lahan dan hampir setiap dua minggu sekali bisa panen pisang cavendish. Kami siap menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Probolinggo untuk membudidayakan cavendish dan menjadikannya ikon Kota Probolinggo,” bebernya.

Meski demikian, pihak yayasan mengaku masih menghadapi kendala pada proses pengemasan dan distribusi hasil panen. “Karena sebagian besar masih dilakukan di luar kota dan dipasarkan ke Surabaya,” Sanip memungkasi. (*)

Editor: Mohammad S

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.