Lumajang, – Ekonomi Kabupaten Lumajang pada 2025 tumbuh 5,35 persen, melampaui capaian nasional sebesar 5,11 persen dan Jawa Timur 5,33 persen.
Kinerja ini menunjukkan daya tahan ekonomi daerah di tengah tekanan global sekaligus menandakan aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak positif.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan, capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa fondasi ekonomi daerah terus membaik.
“Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lumajang tahun 2025 berada pada angka 5,35 persen, lebih tinggi daripada nasional dan Jawa Timur. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat berjalan baik dan terus meningkat,” katanya, Minggu (26/4/2026).
Struktur ekonomi Lumajang masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 31,98 persen. Dominasi ini menegaskan karakter agraris daerah sekaligus menjadikan sektor primer sebagai penyangga utama stabilitas ekonomi.
“Pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Lumajang, dan ini harus terus kita perkuat sekaligus kita dorong nilai tambahnya,” katanya.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan mulai menunjukkan penguatan dengan kontribusi 23,66 persen. Perkembangan ini mencerminkan adanya pergerakan menuju hilirisasi yang mampu memberikan nilai tambah pada komoditas lokal serta membuka peluang peningkatan daya saing ekonomi daerah.
Meski demikian, dominasi sektor primer juga menjadi tantangan dalam mendorong transformasi ekonomi yang lebih seimbang. Penguatan sektor nonpertanian, kata dia, penting untuk memperluas basis ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada sektor berbasis sumber daya alam.
“Ke depan, kita perlu mendorong sektor-sektor lain agar struktur ekonomi semakin seimbang dan memiliki daya saing lebih tinggi,” ujarnya.
Dari sisi ketenagakerjaan, kondisi Lumajang juga menunjukkan perbaikan. Tingkat pengangguran terbuka tercatat 3,08 persen, lebih rendah dibandingkan Jawa Timur 3,88 persen dan nasional 4,85 persen. Angka ini mencerminkan meningkatnya penyerapan tenaga kerja seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi.
Melalui program Desa Cinta Statistik dan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, kebijakan pembangunan diarahkan semakin presisi.
“Dengan data yang akurat, kita pastikan setiap kebijakan benar-benar tepat sasaran dan berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)













