Lumajang, – Di tengah persoalan klasik pisang emas kirana yang tak kunjung terurai, HKTI Lumajang justru mengakui belum memiliki pijakan data lapangan yang memadai.

Ketua HKTI Lumajang, Jamaluddin menyebut, langkah yang disampaikan masih sebatas argumen teknis.

“Belum, ini hanya argumen teknis,” katanya, Selasa (21/4/2026).

Jamaluddin mengatakan pihaknya baru akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengidentifikasi akar masalah. Dari hasil penelusuran awal, ia menyebut ada tiga isu krusial yang menjadi perhatian, seperti lemahnya pendampingan teknis, belum optimalnya kelembagaan petani, serta minimnya hilirisasi.

“Kita koordinasikan dulu di berbagai pihak dan mencoba memetakan problemnya seperti apa,” katanya.

HKTI, kata dia, berencana mendesak reaktivasi pendampingan teknis dengan mendorong Dinas Pertanian dan pemangku kepentingan lain menerjunkan penyuluh ke lapangan.

Fokusnya pada standardisasi kualitas atau grading agar produk petani sesuai dengan spesifikasi pasar modern. Namun, langkah ini dinilai belum menjawab mengapa pendampingan tersebut sebelumnya tidak berjalan optimal.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya korporatisasi petani melalui koperasi atau badan usaha milik petani. Sebab, pasar besar menuntut kontinuitas dan volume yang selama ini sulit dipenuhi petani secara individu.

“Pasar besar butuh kontinuitas dan volume. Kami akan membantu mengonsolidasikan petani agar memiliki posisi tawar yang kuat,” jelasnya.

Namun, seperti dua gagasan sebelumnya, hilirisasi masih sebatas rencana tanpa indikator capaian yang jelas. Jamaluddin bahkan mengakui kerangka yang disampaikan saat ini masih merujuk pada hasil pemberitaan sebelumnya dan belum ditopang data baru.

“Saya cuma memberikan kerangka sesuai hasil berita panjenengan dan belum punya data sesuai apa yang dinaikkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Hendra Suwandaru, menegaskan bahwa peningkatan harga pisang emas kirana sangat bergantung pada kualitas produksi.

Melalui program Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (SLGAP), petani didorong memahami standar budidaya secara menyeluruh.

“Semakin berat tandannya, semakin mulus buahnya, maka nilai jualnya meningkat. Ini bukan hanya soal pupuk, tetapi perawatan detail seperti kebersihan buah dari cacat,” kata Hendra, Senin (20/4/2026).

Di samping itu, Ketua P3NA Jawa Timur, Ishak Subagio mengungkapkan, implementasi SLGAP sendiri belum sepenuhnya berjalan. Program tersebut masih direncanakan masuk dalam skema Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) , sehingga belum memberikan dampak nyata di lapangan.

“SLGAP belum tahu dilakukan, itu rencananya akan dilakukan dalam p

rogram HDDAP,” kata Ishak. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.