PROBOLINGGO-PANTURA7.com, Beberapa hari terakhir, ditemukan klaster baru penyebaran Covid-19 di Kabupaten Probolinggo hingga membuat tren kasus positif terus meningkat.

Hal ini disampaikan Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari. Dikatakan hari ini dan ke depan jangan kaget melihat tren penambahan covid-19 terus meningkat di Kabupaten Probolinggo.

Hal ini karena persoalan entry data dari rumah sakit dan lab di Probolinggo membutuhkan waktu.

Bupati telah memprediksi akan adanya peningkatan ini mulai dari tiga minggu lalu. Pertibangannya banyak sekali potensi hot spot di Kabupaten Probolinggo.

Apalagi, kata Tantri, kasusnya hari ini semakin acak, di-tracing pun satu kasus kemungkinan tertular dari mana sudah tidak bisa. Soalnya kasus orang tanpa gejala (OTG) sudah terlalu banyak dan mendominasi.

Menurut ahli dari surabaya, saat ini yang terkonfirmasi positif di Indonesia dan dirawat di rumah sakit hampir 80% OTG.

“Langkah-langkah yang paling ideal memang dengan menerapkan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM),” kata Tantri, Rabu (16/9/2020).

Saat ini, kata bupati, bermunculan sejumlah klaster klaster baru seperti, perusahaan dan pondok pesantren.

Juga beberapa klaster tenaga kesehatan (nakes) dan yang paling menghawatirkan adalah klaster keluarga.

Namun, yang menjadi perhatian utama di Kabupaten Probolinggo adalah klaster perusahaan dan pondok pesantren, karena mereka mempunyai managerial sendiri.

Sehingga Pemerintahan Kabupaten Probolinggo terus mengintensifkan kordinasi, utamanya pada level perusahaan. Yakni dengan diberikan alternatif dua pilihan, yakni, lockdown atau swab total seluruh populasi.

“Ini juga belangsung alot, karena kita melihat kempampuan perusahaan, namun di sisi lain saya sebagai bupati wajib memastikan keselamatan masyarakat Kabupaten Probolinggo,” kata bupati.

Sehingga terus diskusikan untuk mengambil jalan tengah dari kedua pilihan tersebut dengan perusahaan.

Baca Juga  Akhirnya, RSUD Waluyo Jati Kembali Layani Pasien

Selain itu terkait klaster pondok pesantren, sebetulnya ketika pola pikirnya dibalik bahwa pemkab sebenarnya tidak dalam kapasitas mengganggu pondok pesantren.

“Kami hanya ingin membantu pengasuh dan seluruh komunitas yang ada dalam pondok pesantren, sekiranya seluruh populasi yang ada di pondok pesantren terjamin kesehatannya,” ujarnya.

Pihaknya juga mendorong adanya rumah sehat di pondok pesantren supaya ketika ada gejala sakit untuk segera mungkin memisahkan ke rumah sehat, sehingga harapannya muncul pesantren tangguh di Kabupaten Probolinggo. (*)


Editor: Ikhsan Mahmudi

Publisher: Rizal Wahyudi