Probolinggo – Penutupan wisata Gunung Bromo akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada tingkat okupansi sejumlah hotel di kawasan wisata internasional itu.
Meski demikian, wisatawan yang sudah terlanjur menginap tetap dapat menikmati sejumlah destinasi wisata alternatif di sekitar lereng Bromo.
Kebakaran kawasan wisata Bromo sejatinya telah dinyatakan padam oleh petugas gabungan pada Jumat (14/8/26) siang.
Namun, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) hingga kini masih belum membuka kembali destinasi wisata yang berada di 4 wilayah itu.
Salah satu dampak penutupan tersebut adalah penurunan okupansi hotel. Penurunan mulai terasa sejak penutupan memasuki hari ke-10, dengan persentase yang bervariasi di setiap hotel.
“Jadi, untuk di hotel saya penurunannya mencapai 20 persen. Bahkan, ada beberapa tamu yang akan membatalkan kunjungannya setelah tahu Bromo ditutup. Namun, saya memberi solusi kepada mereka terkait destinasi lain di Bromo,” kata Pemilik Yoschi Hotel Bromo, Digdoyo Jamaluddin.
Meski okupansi hotel mengalami penurunan, kunjungan wisatawan mancanegara ke kawasan Bromo masih tetap ramai.
Kondisi ini tidak lepas dari saat ini yang memasuki high season atau puncak kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Karena Bromo masih ditutup, agen wisata maupun pihak hotel mengarahkan wisatawan yang terlanjur datang ke sejumlah destinasi alternatif di sekitar Bromo, seperti Puncak Seruni Point, Sky Bridge, hingga Air Terjun Madakaripura.
“Dengan penutupan Bromo ini berbanding terbalik. Destinasi milik Pemerintah Kabupaten Probolinggo di sekitar Bromo justru menjadi rujukan wisatawan. Semoga Gunung Bromo ini dapat cepat kembali dibuka,” imbuh Digdoyo.
Tamu Yoschi Hotel, Rebeca, mengaku tetap menikmati keindahan kawasan Bromo meski tidak dapat masuk ke kawasan utama akibat kondisi dan pertimbangan keamanan wisatawan.
“Dari Seruni Point saya bisa melihat keindahan Bromo dan matahari terbit. Sebelumnya saya pernah menaiki tangga untuk mencapai ke puncaknya,” cerita wisatawan asal Italia ini. (*)












