Lumajang,- Musim kemarau yang biasanya mengurangi aktivitas di sektor perkebunan justru membuka sumber penghasilan baru bagi warga Desa Pundungsari, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang.
Daun-daun cengkeh yang berguguran kini dipungut dan dijual sebagai bahan baku minyak atsiri, sehingga menjadi penopang ekonomi masyarakat di tengah minimnya pekerjaan di kebun.
Salah seorang warga, Kang Adi, mengatakan hampir setiap musim kemarau dirinya memanfaatkan waktu luang dengan mengumpulkan daun cengkeh kering.
Menurutnya, pekerjaan tersebut menjadi alternatif penghasilan ketika aktivitas perawatan kebun berkurang.
“Di musim kemarau panjang seperti sekarang, tidak ada yang bisa dikerjakan di kebun. Daripada menganggur, lebih baik mengumpulkan daun cengkeh. Lumayan untuk menopang kebutuhan harian,” katanya, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, daun cengkeh kering saat ini dihargai sekitar Rp2.700 per kilogram. Dalam satu karung berisi sekitar 15 kilogram, warga dapat memperoleh sekitar Rp40.500 sebelum daun tersebut dijual kepada pengepul maupun tempat penyulingan minyak atsiri.
“Meski nilainya tidak besar, yang penting di musim kemarau ini cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga hingga musim hujan tiba,” jelasnya.
Untuk diketahui, Desa Pundungsari selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil minyak daun cengkeh di Kecamatan Tempursari.
Dari 15 unit usaha penyulingan yang beroperasi di kecamatan tersebut, tujuh unit berada di Desa Pundungsari, sedangkan sisanya tersebar di sejumlah desa lain.
“Nah, keberadaan industri penyulingan itu membuat daun cengkeh yang sebelumnya hanya menjadi serasah memiliki nilai ekonomi dan pasar yang jelas,” pungkasnya. (*)












