Pasuruan,- Warga Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, menutup akses Jalur Pantura Pasuruan-Probolinggo, tepatnya di depan Komando Latihan Marinir, Kamis (23/7/2026) pagi.
Aksi turun jalan dilakukan sebagai bentuk protes atas dugaan peluru nyasar yang kembali terjadi dan dinilai mengancam keselamatan warga.
Warga mengaku resah setelah sebuah peluru menembus atap salah satu rumah dan nyaris mengenai seorang anak kecil. Peristiwa itu terjadi setelah sehari sebelumnya ditemukan peluru nyasar di permukiman warga.
Sekretaris Desa Alas Tlogo, Sugianto mengatakan, pemerintah desa sebelumnya telah berupaya berkoordinasi dengan TNI AL, Polsek Lekok, dan Pemerintah Kecamatan Lekok menyusul kejadian peluru nyasar yang terjadi sehari sebelumnya.
Menurutnya, saat itu pihak terkait menyampaikan akan melakukan evaluasi. Namun, pada Kamis pagi, peluru nyasar kembali ditemukan dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan kejadian sebelumnya.
“Kemarin kami dari pemerintah desa sudah menghadap Puspenerbal, Bapak Kapolsek, dan Bapak Camat. Mereka menyampaikan akan melakukan evaluasi,” kata Sugianto.
“Tetapi tadi pagi masih ada peluru nyasar, bahkan lebih banyak dari kemarin. Karena warga merasa nyawanya terancam, kami sepakat menutup jalan agar ada respons dan solusi dari pihak terkait,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, salah satu peluru menembus atap rumah warga sebelum jatuh ke dalam rumah. Saat kejadian, peluru tersebut nyaris mengenai seorang anak kecil yang merupakan keponakannya.
“Peluru itu menembus atap rumah lalu jatuh ke bawah. Hampir mengenai anak kecil, keponakan saya sendiri. Jaraknya kurang sejengkal,” papar dia.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka, Sugianto menegaskan warga tidak ingin menunggu hingga ada korban sebelum persoalan tersebut ditangani secara serius.

“Kalau korban sementara memang tidak ada. Tapi kalau harus menunggu korban dulu baru ada tindakan, bagaimana? Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas,” ia menambahkan.
Tidak Ada Pemberitahuan
Sugianto mengklaim, Pemerintah Desa Alas Tlogo tidak pernah menerima surat pemberitahuan mengenai pelaksanaan latihan. Padahal, latihan dijadwalkan berlangsung hingga 2 Agustus dan surat pemberitahuan telah diterima oleh pihak kecamatan serta kepolisian.
“Surat pemberitahuan latihan itu tidak pernah dikirim ke Desa Alas Tlogo. Padahal Pak Camat dan pihak Polsek Grati sudah memegang surat tersebut,” sungutnya.
Ia berharap, kegiatan latihan dihentikan sementara hingga ada jaminan keamanan bagi masyarakat dan solusi yang disepakati bersama.
“Harapan kami latihan dihentikan dulu. Keselamatan warga harus diutamakan sampai ada titik temu, sehingga masyarakat bisa kembali merasa aman, nyaman, dan tenang,” ucapnya.
Selain itu, Sugianto mengaku menerima ancaman usai mengikuti koordinasi dengan sejumlah pihak terkait insiden tersebut. Menurutnya, ancaman itu diterima saat dirinya keluar dari lokasi pertemuan.
“Kemarin waktu keluar saya mendapat ancaman dari TNI. Ada yang mengatakan, ‘Kamu tak jadikan Alas Tlogo 2 nanti. Kamu tak culik, lihat wajah kamu.’ Saya punya bukti foto dan ada saksi yang mendengar. Tapi saya tidak merasa takut, karena saya membela masyarakat,” ungkap Sugianto.
Hingga berita ini ditulis, belum ada perwakilan TNI menemui warga yang melakukan aksi. Warga masih bertahan di lokasi penutupan Jalur Pantura di depan Komando Latihan Marinir sambil menunggu respon dan solusi dari pihak terkait. (*)












