Lumajang,- Antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jumat (26/6/26), mengganggu aktivitas distribusi pasir.
Sejumlah sopir truk mengaku kehilangan kesempatan bekerja karena kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar.
Pantauan di lokasi menunjukkan antrean truk mengular hingga sekitar 500 meter sejak dini hari.
Puluhan kendaraan terpaksa parkir di tepi jalan sambil menunggu giliran mengisi BBM.
Deni, salah seorang sopir truk pasir, mengatakan telah mengantre sejak pukul 03.00 WIB. Namun hingga sekitar pukul 10.00 WIB, ia belum juga mendapatkan solar subsidi.
“Mulai sebelum subuh jam 3, sampai sekarang belum dapat (BBM), ini saja nanti kalau habis tidak dikasih tahu,” katanya.
Menurutnya, kesulitan memperoleh Bio Solar mulai dirasakan sejak Rabu, 23 Juni 2026. Namun ia mengaku tidak mengetahui penyebab terbatasnya pasokan BBM bersubsidi tersebut.
“Mulai kemarin, kalau orang kuli seperti saya tidak tahu kenapa-kenapanya,” jelas dia.
Kelangkaan solar subsidi berdampak langsung terhadap aktivitas angkutan pasir.
Hendra, sopir truk lainnya, mengatakan pada hari normal ia sudah dapat menyelesaikan dua kali perjalanan mengangkut pasir dari lokasi tambang menuju stockpile sebelum siang.
Namun kali ini, ia belum dapat bekerja sama sekali karena masih mengantre BBM.
“Kalau biasanya dapat 2 rit, ini belum sama sekali, jadi ya berdampak sekali,” keluh Hendra.
Ia juga menyebut antrean tidak hanya terjadi pada Bio Solar. BBM bersubsidi jenis Pertalite pun mengalami antrean panjang.
“Adanya hanya Pertamax, mahal kalau sebangsa petani sama buruh seperti kami,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab antrean maupun ketersediaan pasokan BBM bersubsidi di wilayah Lumajang.
Pihak Communication & Relations Pertamina Regional V Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara yang dihubungi hanya menyatakan keterangan resmi masih disiapkan.
“Ditunggu rilis kita ya,” tulis staf Communication & Relations Pertamina Regional V saat dihubungi via WhatsApp. (*)












