Probolinggo,- Warga Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Sabtu (20/6/2026), menggelar tradisi unik berupa Grebek Suro.

Tradisi yang digelar untuk menyemarakan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah ini diawali dengan arak-arakan dua gunungan, yakni gunungan berisi hasil bumi dan gunungan nasi tumpeng, sejauh sekitar satu kilometer.

Kedua gunungan diarak dari Jalan Slamet Riyadi menuju Jalan Ki Hajar Dewantara dan berakhir di Padepokan Wali Songo, Jalan Asahan.

“Acara menyambut Tahun Baru Islam ini memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat, baik yang memiliki lahan pertanian maupun yang tidak,” kata Pengasuh Padepokan Wali Songo, Ahmad Kusnadi.

Sebelum diperebutkan warga, dua gunungan tersebut terlebih dahulu didoakan. Selain itu, ada pembacaan tahlil, sholawat, dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.

Setelah rangkaian doa selesai, warga yang telah menunggu langsung berebut isi gunungan. Hasil bumi yang diperoleh nantinya akan dimasak dan dikonsumsi bersama keluarga.

“Harapannya, melalui kegiatan ini masyarakat dijauhkan dari bala dan musibah, serta diberikan kelancaran rezeki,” imbuh Kusnadi.

Sementara itu, salah satu warga Alivia Madona Putri (31) mengaku selalu datang setiap tahun untuk mengikuti tradisi tahunan ini dan merebutkan gunungan.

Menurut wanita asal Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran ini, Grebek Suro memiliki nilai kebersamaan tanpa pandang bulu sekaligus menjadi sarana untuk mencari keberkahan.

“Tadi saat rebutan gunungan, saya mendapatkan sayuran yang nantinya akan dimasak dan dikonsumsi. Harapan dengan kegiatan ini, semoga rezeki semakin lancar, dan acara ini ke depan bisa semakin meriah,” tuturnya. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.