Lumajang,- Niat mencari rezeki dengan menambang di lereng Semeru berujung petaka. Seorang penambang mengalami luka bakar hampir di seluruh tubuh setelah timbunan material panas yang ditambangnya memicu letupan sekunder.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengatakan korban berangkat menuju lokasi tambang pada Sabtu (20/6/26) sekitar pukul 01.00 WIB. Seperti kebanyakan penambang lainnya, korban hendak mencari material vulkanik yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat di sekitar kawasan Semeru.
Namun, sekitar pukul 02.00 WIB, musibah terjadi. Material yang ditambang korban ternyata masih menyimpan panas tinggi. Saat aktivitas penambangan berlangsung, timbunan material memicu letupan sekunder yang langsung mengenai tubuh korban.
“Korban berangkat ke lokasi tambang jam 1 malam. Kira-kira jam 2 malam rupanya yang ditambang itu timbunan material yang masih panas dan ada letusan sekunder yang mengenai seluruh badannya,” kata Indah.
Laporan awal yang diterima pemerintah daerah menyebut korban mengalami luka bakar sekitar 43 persen. Namun setelah menjalani pemeriksaan dan tindakan medis lebih lanjut di ruang operasi, kondisi korban ternyata jauh lebih berat dari perkiraan semula.
“Pertama laporan yang masuk ke saya tadi pagi sekitar 43 persen luka bakar, tapi ternyata setelah dibuka di ruang operasi 80 persen luka bakar,” jelasnya.
Menurut Indah, luka bakar tersebut hampir mengenai seluruh bagian tubuh korban. Saat ini tim medis telah melakukan penanganan intensif untuk membersihkan luka dan menjaga kondisi pasien agar tetap stabil.
“Artinya hampir seluruh tubuhnya terkena luka bakar. Penanganan terbaik sudah dilakukan, sudah di ruang operasi, sudah dibersihkan seluruh luka dan tinggal menjaga kondisi stabilitas pasien,” ucap dia.
Peristiwa ini kembali menegaskan ancaman Gunung Semeru tidak hanya datang saat terjadi erupsi atau awan panas guguran.
Material vulkanik yang tampak diam di sepanjang aliran sungai dan kawasan tambang masih dapat menyimpan panas dalam waktu lama dan berpotensi memicu letupan berbahaya.
Ia mengatakan pemerintah daerah sebenarnya telah berulang kali mengingatkan masyarakat melalui surat edaran agar tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana, terutama di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak Semeru.
“Saya sudah mengeluarkan surat edaran dan menghimbau untuk tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak,” ujarnya.
Menurut dia, peringatan tersebut selalu disampaikan setiap kali aktivitas vulkanik Semeru meningkat. Namun sebagian masyarakat masih menganggap ancaman hanya datang ketika gunung mengeluarkan awan panas dengan jarak luncur yang panjang.
Padahal, kata Indah, bahaya bisa muncul meski jarak luncur awan panas relatif pendek.
“Jangan pernah diremehkan meskipun hanya jarak luncur 1 kilometer, 2 kilometer, dan kemarin itu 4,5 kilometer,” katanya.
Selain itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak aliran material panas maupun banjir lahar ketika hujan turun di kawasan puncak.
Menurutnya, hingga kini masih terdapat timbunan material vulkanik dalam jumlah sangat besar di lereng Semeru. Material itu sewaktu-waktu dapat terbawa hujan dan mengalir ke bawah melalui sungai-sungai yang berhulu di gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
“Di atas itu masih hujan. Di lereng Semeru masih banyak timbunan material, jutaan ton jumlahnya. Kalau sudah dibawa oleh hujan ini kan bahaya sekali,” pungkasnya.
Direktur RSUD dr. Haryoto Lumajang, Wawan Arwijanto, mengatakan korban telah menjalani serangkaian tindakan medis darurat sesaat setelah tiba di rumah sakit.
Tim dokter melakukan operasi untuk membersihkan luka bakar, memasang saluran cairan, serta memasang alat bantu pernapasan guna menjaga kondisi pasien tetap stabil.
“Korban sudah dilakukan penanganan awal, operasi untuk membersihkan semua luka bakarnya, memasang saluran untuk pemberian cairan, kemudian memasang saluran untuk membantu pernapasan,” beber Wawan. (*)












