Pasuruan, – Di sebuah gang sempit di kawasan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, langkah pelan seorang nenek berusia 85 tahun menyimpan cerita panjang tentang ketekunan dan harapan.
Mislicha, warga Gang IV, Jalan Patimura, tak pernah menyangka impian lamanya untuk menunaikan ibadah haji akhirnya segera terwujud.
Perempuan yang sehari-hari berjualan cilok keliling ini tercatat sebagai calon jamaah haji tertua asal Kota Pasuruan untuk musim haji 2026. Ia dijadwalkan berangkat pada Kamis, 23 April 2026, bersama sang anak, Mariatul Qibtiyah, dalam rombongan kloter 10 Embarkasi Surabaya.
Pagi itu, dengan pakaian sederhana, Mislicha terlihat mendorong gerobak kecil berwarna hijau kebiruan keluar dari gang rumahnya. Langkahnya pelan namun pasti. Sekitar seratus meter dari rumah, ia berhenti di tepi jalan, lalu mulai menata dagangan cilok lengkap dengan sambal, saus, dan irisan daun bawang.
Di sela aktivitasnya, Mislicha membuka kisah hidupnya. Ia mengaku, telah berjualan cilok selama kurang lebih lima dekade. Dari usaha sederhana itulah, ia menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan niat berhaji yang telah tumbuh sejak masa muda.
“Sudah sekitar 50 tahun saya jualan cilok. Dari dulu memang punya keinginan ke Tanah Suci, sejak masih muda,” tuturnya sambil merapikan dagangan.
Hidup dalam keterbatasan tak menyurutkan keyakinannya. Meski tinggal di rumah sederhana dan menjadi tulang punggung keluarga, ia terus menyisihkan penghasilan harian. Uang yang terkumpul disimpan, bahkan sesekali mengikuti arisan kecil untuk menambah tabungan.
Ia juga menceritakan, perjalanan hidupnya sebagai seorang ibu dari delapan anak dan nenek dari 22 cucu. Sejak suaminya meninggal sekitar 15 tahun lalu, ia menjalani hidup dengan penuh keikhlasan.
“Suami saya sudah lama meninggal. Anak saya ada delapan. Semua saya jalani dengan ikhlas dan selalu bersyukur,” ucapnya pelan.
Langkah besar menuju Tanah Suci dimulai dari sisa uang perjalanan umrah pada 2018. Uang tersebut kemudian digunakan sebagai setoran awal biaya haji sebesar Rp25 juta. Tanpa ragu, ia mendaftar pada 2019, meski tak menyangka panggilan berangkat datang lebih cepat dari perkiraan.
“Saya nabung dari hasil jualan. Kaget juga waktu dapat panggilan haji, rasanya cepat sekali. Mungkin karena usia saya sudah sepuh,” katanya, sembari sesekali melayani pembeli.
Dalam perjalanan ibadah nanti, Mislicha akan didampingi putrinya, Mariatul Qibtiyah. Sang anak sebelumnya sempat bekerja di sebuah pabrik di Mojokerto, namun kini memilih membantu sang ibu berjualan cilok kuah setiap malam hingga pukul 23.00 WIB.
Seluruh biaya keberangkatan haji, termasuk persiapan, disebut berasal dari hasil kerja keras mereka berdua. Tak ada sumber lain selain dari usaha kecil yang telah digeluti bertahun-tahun.
Menjelang keberangkatan, Mislicha berencana menggelar syukuran sederhana di lingkungan rumahnya. Ia ingin berpamitan sekaligus memohon doa restu dari tetangga dan kerabat terdekat.
“Nanti hanya syukuran kecil, sekalian minta maaf ke tetangga. Bekal juga secukupnya saja, bawa pakaian dan sedikit makanan,” ujarnya.
Kabar keberangkatan Mislicha pun disambut hangat warga sekitar. Diana, salah satu tetangga, mengaku, turut bahagia atas kesempatan yang didapat perempuan yang akrab disapa Yuk Mis itu.
Sejak lama, Mislicha dikenal sebagai sosok pekerja keras yang sabar menjalani hidup. Ia sudah berjualan cilok keliling di kawasan Patimura dan Patiunus sejak puluhan tahun silam.
“Alhamdulillah, akhirnya Yuk Mis bisa berangkat haji. Orangnya memang ulet dan telaten. Semoga sehat selalu dan pulang dengan selamat,” kata Diana.
Di usia senja, Mislicha membuktikan bahwa ketekunan dan keyakinan mampu menembus batas keadaan. Dari gerobak cilok sederhana di pinggir jalan, ia melangkah menuju perjalanan suci yang telah lama diimpikan. (*)













