Lumajang, – Menjelang Hari Raya Nyepi, ribuan umat Hindu Suku Tengger dari lereng Gunung Semeru dan Gunung Bromo melakukan perjalanan spiritual yang sarat makna. Mereka turun dari pegunungan menuju Pantai Selatan Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang untuk melaksanakan upacara Melasti.
Sekitar 2.000 lebih umat Hindu berjalan kaki sejauh satu kilometer dari kawasan Hutan Kesambi menuju bibir Pantai Watu Pecak. Dalam barisan yang rapi, mereka membawa berbagai perlengkapan persembahyangan serta benda-benda pusaka yang disakralkan dalam tradisi Hindu Tengger.
Prosesi berjalan kaki menuju laut ini bukan sekadar perjalanan fisik. Bagi masyarakat Tengger, langkah demi langkah menuju pantai merupakan perjalanan spiritual untuk membersihkan diri sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.
Setibanya di Pantai Watu Pecak, umat Hindu langsung menggelar persembahyangan bersama. Suasana pantai yang biasanya ramai oleh aktivitas warga berubah menjadi tempat yang penuh kekhusyukan.
Selain membawa perlengkapan persembahyangan, umat Hindu Tengger juga membawa berbagai hasil bumi sebagai persembahan. Aneka buah, sayur-sayuran, hingga hewan ternak turut dibawa sebagai simbol rasa syukur atas berkah alam yang telah diberikan.
Setelah doa dipanjatkan, satu per satu persembahan tersebut kemudian dilarung ke laut sebagai simbol penyucian serta pengembalian unsur alam kepada semesta.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang, Teguh Widodo mengatakan, upacara Melasti memiliki makna penting bagi umat Hindu menjelang pelaksanaan Nyepi.
“Upacara Melasti ini merupakan rangkaian menjelang Hari Raya Nyepi, tujuannya untuk menyucikan diri dan memohon tuntunan kepada Tuhan agar kehidupan umat Hindu bisa kembali selaras, baik hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, maupun dengan alam,” katanya, Minggu (15/3/2026).
Melalui ritual ini, umat Hindu diharapkan mampu memperbaiki keseimbangan kehidupan serta memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Selain sebagai ritual keagamaan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan umat Hindu Tengger yang berasal dari berbagai desa di lereng Gunung Semeru dan Gunung Bromo.
Salah satu umat Hindu Lumajang, Suciati mengaku, mengikuti upacara Melasti merupakan bagian dari kewajiban spiritual sebelum menjalani Catur Brata Penyepian.
“Setiap tahun kami mengikuti Melasti untuk menyucikan diri sebelum Nyepi. Harapannya setelah Melasti ini kehidupan menjadi lebih baik, lebih damai, dan kita juga bisa terus menjaga kerukunan antarumat beragama,” katanya.
Menariknya, pelaksanaan Melasti tahun ini berlangsung bersamaan dengan bulan Ramadan, saat umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa. (*)












