Probolinggo,– Di tengah modernisasi zaman, masyarakat Suku Tengger di lereng Bromo masih mempertahankan warisan leluhur secara turun-temurun.

Salah satunya yakni rumah tradisional yang menjadi bukti kuat komitmen warga dalam menjaga identitas budaya.

Suku Tengger mendiami kawasan lereng Gunung Bromo yang tersebar di 4 Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang yang dikenal teguh memegang adat istiadat.

Selain berbagai tradisi dan ritual keagamaan yang masih lestari, rumah adat Tengger yang dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.

Salah satu wilayah yang masih banyak memiliki rumah adat Tengger yakni di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Di sepanjang jalur menuju kawasan wisata Bromo, sejumlah rumah tradisional masih kokoh berdiri meski sebagiannya telah mengalami pemugaran.

Salah satu rumah adat yang masih terawat adalah milik Suhartina (89), warga Desa Ngadisari. Rumah yang mayoritas terbuat dari kayu ini telah berusia lebih dari 200 tahun.

Saat proses pembangunan, kayu didapat dari kawasan Gunung Bromo, dibawa dengan berjalan kaki sejauh belasan kilometer hingga sampai di Ngadisari.

“Sebagian besar rumah masih tetap mempertahankan ciri khasnya, namun pasca erupsi Bromo tahun 2010 atap rumah yang rusak akhirnya mendapat pemugaran ” kata Suhartina, Sabtu (30/5/26).

Memiliki Ciri Khas

Ciri khas rumah adat Tengger diantaranya memiliki tiga ruangan utama yang masing-masing mempunyai fungsi berbeda. Ruangan pertama disebut Padhayoan yang berfungsi sebagai ruang tamu.

Ruangan kedua adalah Peturon atau kamar tidur. Sedangkan ruangan ketiga disebut Pawon atau Pedharingan yang digunakan sebagai dapur sekaligus tempat perapian.

Lantaran berada di kawasan pegunungan dengan suhu yang relatif dingin, pawon juga kerap dimanfaatkan sebagai ruang berkumpul keluarga maupun tempat menerima tamu.

“Untuk desain ruangan per ruangan masih tetap sama, tidak ada yang di rumah, termasuk patung kepala rusa yang ada di 4 sudut di ruang tamu masih tetap ada,” ujarnya.

Rumah tersebut saat ini kini ditinggali Suhartina, anak, menantu serta cucunya, yang menjadi keturunan dari pemilik awal rumah tersebut.

“Tidak ada perawatan khusus pada rumah ini, hanya pengecatan saja disamping kebersihan rumah tetap dijaga,” imbuh Suhartina.

Keberadaan rumah adat Tengger menjadi salah satu daya tarik budaya yang masih dapat dijumpai di kawasan Bromo.

Selain menikmati keindahan alam, wisatawan juga dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat Tengger yang tetap menjaga tradisi dan warisan leluhur hingga saat ini. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.