Probolinggo,— Perubahan besar tengah dirasakan oleh warga Desa Wedusan, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Wilayah yang selama puluhan tahun dikenal sepi dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah kini bertransformasi menjadi pusat keramaian baru dan sentra ekonomi kerakyatan.

Fenomena yang bermula dari “pasar dadakan” ini mendadak viral di platform TikTok (TT) dan membawa angin segar bagi kehidupan warga setempat.

Kehadiran pasar dadakan ini belum genap berusia satu bulan, namun lonjakan pengunjung sudah terjadi secara masif.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari rampungnya perbaikan dan pengaspalan akses jalan yang selama ini dinantikan oleh masyarakat yang berada di kaki lereng pegunungan argopuro itu.

Bagi Erik Friska Wiyantina atau yang akrab disapa Ica (40), perubahan ini terasa begitu istimewa.

Pemilik toko kelontong di Dusun Racek Kedung Supit ini mengaku takjub karena baru kali ini ia merasakan desanya ramai dikunjungi banyak orang dengan kondisi jalan yang mulus.

“Saya sendiri umur 40 tahun, baru sekarang jalan di desa ini diaspal dan seramai ini,” ujar Ica saat ditemui di tempat usahanya, Senin (26/10/26).

Senada dengan Ica, Zainal Arifin (26) selaku ketua paguyuban UMKM pasar dadakan Wedusan menceritakan bahwa jalan di desanya sempat mengalami kerusakan parah hingga lebih dari 20 tahun.

DADAKAN: Suasana aktivitas warga di sentra ekonomi kerakyatan atau “Pasar Dadakan” di area pintu masuk Desa Wedusan, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Zainul Qudsi)

Berkat perbaikan infrastruktur di era kepemimpinan Bupati – Wakil Bupati Probolinggo, Gus Haris – Lora Fahmi, kawasan tersebut kini hidup kembali dan menjadi daya tarik wisata lokal.

“Awal mulanya di sini itu sepi, tidak seperti ini. Jalannya rusak sudah 20 tahunan lebih. Begitu diperbaiki, suasananya makin bagus, rumput-rumput dibersihkan, lalu mendadak viral di TikTok sebagai tempat nongkrong dan berburu pemandangan liburan,” kenang Zainal.

Geliat Ekonomi dan Karakteristik Pasar Dadakan

Aktivitas di pasar dadakan Desa Wedusan biasanya mulai dibuka oleh para pedagang sejak pukul 13.00. Puncak keramaian terjadi pada pukul 15.00 hingga 17.00 WIB menjelang sore hari, terutama saat akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu.

Daya tarik pasar ini rupanya memikat pengunjung dari berbagai wilayah luar desa, mulai dari Tiris Atas, Krucil, Maron, Pesawahan, Wangkal, hingga Kabupaten Madura.

Geliat ekonomi kerakyatan ini digerakkan oleh sekitar 13 hingga 14 lapak warga tetap yang tergabung dalam paguyuban, serta puluhan pedagang pendatang saat akhir pekan.

“Untuk mendukung perekonomian warga, kami selaku paguyuban memberlakukan sistem lapak secara mandiri dan sukarela tanpa pungutan biaya sewa alias gratis ” tutur Zainal.

SANTAI: Warga bersantai di area Pasar Dadakan Desa Wedusan, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, sembari menikmati aneka jajanan dan minuman yang dijual para PKL. (Foto: Zainul Qudsi)

Tantangan Baru di Balik Keramaian

Di balik antusiasme tinggi dan peningkatan omset yang dirasakan warga, lonjakan pengunjung turut memunculkan sejumlah tantangan baru yang memerlukan perhatian bersama.

Lokasi pasar yang berada di area tebing serta minimnya lampu penerangan jalan membuat warga dan pedagang mengkhawatirkan potensi gangguan keamanan, seperti aksi kriminalitas bagi pengendara yang melintas setelah senja.

Selain itu, ketiadaan lahan parkir khusus memaksa kendaraan pengunjung memanfaatkan bahu jalan di sekitar tebing, yang berisiko memicu kemacetan.

Meski demikian, rasa syukur atas perbaikan infrastruktur ini tetap mendominasi. Sebagai bentuk apresiasi, warga bahkan sempat menggelar selamatan beruntun di tiap RT di Desa Wedusan.

“Harapannya tentu ada penerangan jalan, karena kalau malam hari cukup gelap dan orang lewat merasa khawatir. Setidaknya ada lampu jalan dan penataan parkir yang baik,” pungkas Zainal. 

Data Badan Pusat Statisik (BPS), Desa Wedusan memiliki jumlah penduduk sekitar 3.815 jiwa dengan luas wilayah 9,20 km². Mayoritas penduduknya bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan sapi potong.

Pada 2018 lalu, Desa Wedusan menjadi sasaran prioritas program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Kodim 0820 Probolinggo karena masuk kategori desa tertinggal.

Dalam dua tahun terakhir, Desa Wedusan berhasil keluar dari kategori desa tertinggal seiring peningkatan program pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah, terutama di bidang infrastruktur jalan. (*)


Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.