Lumajang,- Pemanfaatan hunian tetap (huntap) bagi penyintas erupsi Gunung Semeru di kawasan Bumi Semeru Damai (BSD), Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Lumajang.

Dari total 1.951 unit yang dibangun setelah erupsi pada 2021, sebanyak 932 unit tercatat ditempati secara tetap oleh penyintas.

Data Pemerintah Kabupaten Lumajang juga mencatat 32 unit huntap ditempati ahli waris dan 458 unit dimanfaatkan sebagai hunian berkala atau rumah singgah.

Sementara itu, 419 unit tercatat kosong atau tidak ditempati.

Selain itu, sebanyak 42 unit ditinggalkan pemiliknya karena merantau atau keluar dari Kabupaten Lumajang. Sebanyak 41 unit lainnya dikontrakkan atau ditempati orang lain.

Adapun 27 unit digunakan sebagai posko oleh perangkat daerah untuk mendukung kegiatan penanganan di kawasan relokasi.

Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Lumajang, Ernowo Pujo Santoso, mengatakan pemerintah daerah tengah melakukan evaluasi dan verifikasi terhadap kondisi hunian sebelum menentukan kebijakan lebih lanjut.

“Rencana kami dari Pemerintah Kabupaten Lumajang itu akan melakukan penertiban dengan menarik kembali unit-unit yang tidak ditempati tersebut. Namun, saat ini kami masih dalam proses verifikasi terkait kondisi riil di sana,” katanya, Minggu (25/10/2026).

Ernowo menjelaskan, huntap tersebut masih tercatat sebagai aset Pemerintah Kabupaten Lumajang setelah diserahterimakan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Bangunan-bangunan perumahan yang ditempati korban erupsi itu masih menjadi aset kabupaten. Jadi, penyintas hanya menempati rumah tersebut,” tuturnya.

Terkait hunian yang tidak ditempati, Ernowo menyebut faktor ekonomi menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.

Lokasi relokasi yang relatif jauh dari tempat tinggal sebelumnya dan aktivitas ekonomi yang dinilai belum optimal menjadi tantangan bagi sebagian penyintas untuk bertahan di kawasan tersebut.

“Faktor utamanya sebetulnya ekonomi. Ketika penyintas direlokasi dari tempat bencana, lokasinya memang agak jauh. Dari sisi perekonomian, perputarannya masih terkesan lambat, sehingga mereka juga harus mempertimbangkan bagaimana bisa bertahan hidup ketika tinggal di sana,” pungkasnya. (*)


Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.