Probolinggo,– Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo kembali menggelar Batik In Motion 2026, Jum’at (4/9/26). Mengusung konsep perpaduan budaya dan kreativitas, kegiatan tahun ini melibatkan ribuan penari dari berbagai elemen masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di depan Kantor Wali Kota Probolinggo ini turut dihadiri jajaran Forkopimda Kota Probolinggo serta perwakilan dari sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur.

Jalan Panglima Sudirman disulap menjadi arena pertunjukan seni dan budaya. Berbagai kesenian tradisional hingga pagelaran batik ditampilkan di sepanjang ruas jalan sepanjang sekitar 350 meter. 

Sekitar 1.000 pelajar SD dan SMP turut tampil membawakan sejumlah tarian, di antaranya Tari Jaran Bhodak, Kiprah Lengger, dan Kipas Bayuangga.

Sementara itu, pertunjukan line dance melibatkan para ASN, PKK, Forkopimda, mahasiswa, komunitas senam, hingga sanggar tari.

Seluruh penari mengenakan batik dengan motif anggur dan mangga yang menjadi ciri khas Kota Probolinggo.

Beragam corak dan warna batik yang ditampilkan tidak hanya memperkaya visual pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan batik dan seni tradisional kepada masyarakat.

“Jadi gelaran Batik In Motion tahun ini kami mengkonsep terus menerus memiliki konsep baru, naik kelas dan tidak membosankan, salah satunya dengan membawa batik lebih dikenal oleh masyarakat,” kata Ketua Dekranasda Kota Probolinggo, Evariani Aminuddin.

Puncak acara ditandai dengan pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Sebanyak 2.705 penari berhasil mencatatkan rekor dalam kategori line dance mengenakan busana tradisional dengan jumlah peserta terbanyak.

Piagam rekor MURI bernomor 12897/R.MURI/IX/2026 secara resmi diserahkan kepada Ketua Dekranasda Kota Probolinggo, Evariani Aminuddin. Penyerahan berlangsung di panggung utama dan didampingi Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, serta Wakil Wali Kota Ina Dwi Kestari.

“Dengan menggandeng kalangan muda untuk menjadikan penerus para pembatik, harapannya, Batik In Motion jadi jawaban Kota Probolinggo menjadi percontohan dengan ekonomi bergerak dan setiap daerah dapat berdampak,” imbuhnya.

Pagelaran Batik In Motion 2026 berlangsung selama dua hari. Selain pertunjukan seni dan budaya serta pagelaran batik, rangkaian kegiatan juga akan ditutup pada Minggu melalui agenda Batik Tourism Experience. (*)


 

Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.