Lumajang,- Warga Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, berebut hasil bumi dalam puncak Sedekah Desa Wonokerto 2026 di kawasan Bukit Jenggolo, Minggu (15/8/26) siang.

Sedekah desa tahun ini dikemas melalui Jenggolo Tape Fest 2026. Selain hasil bumi, warga yang hadir juga mendapatkan tape ketan secara gratis.

Sebanyak 5.000 porsi tape ketan disiapkan dalam kegiatan tersebut dan langsung ludes dalam waktu tak sampai satu jam.

Kepala Desa Wonokerto, Tupin, mengatakan bahwa rangkaian kegiatan Sedekah Desa telah dimulai sehari sebelumnya, Jumat, 14 Agustus 2026.

Pemerintah desa menggelar khotmil Quran di 21 titik di Desa Wonokerto. Pada momentum itu, masyarakat Desa Wonokerto bersedekah dengan menghadirkan sanak saudaranya.

“Bersedekah juga memberikan hidangan dan apa pun yang bisa diberikan untuk saudara dan keluarganya,” kata Tupin.

Menurutnya, pelaksanaan sedekah desa merupakan bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarwarga.

Tahun ini, sambungnya, pemerintah desa mengangkat tema Jenggolo Tape Fest 2026 dengan tape ketan sebagai salah satu hidangan utama.

Tape ketan tersebut tidak hanya dinikmati di lokasi, tetapi juga dapat dibawa pulang sebagai bagian dari tradisi membawa berkah.

“Nah yang kita sedekahkan tape ketan sebagai hidangan khas pada saat sedekah desa, sehingga Bapak-Ibu nanti bisa menikmati dan juga bisa dibawa pulang sebagai bentuk berkat,” ucap Tupin.

Selain pembagian tape ketan, juga ada tampilan kesenian tradisional. Diantaranya jaran kencak, kuda lumping, bantengan, tari topeng kaliwungu, karapan sapi, serta kesenian khas masyarakat Madura.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Lumajang dan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lumajang Agus Setiawan.

Tupin menyampaikan, Jenggolo Tape Fest merupakan konsep baru yang diharapkan dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya.

“Insyaallah nanti akan kita lanjutkan di tahun-tahun berikutnya dengan berbagai koreksi sehingga akan menjadi daya tarik untuk para pengunjung,” papar dia.

Bukit Jenggolo sendiri tidak hanya dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan budaya. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai agrowisata dengan mengusung konsep ketahanan pangan.

Tupin mengatakan kawasan Bukit Jenggolo dibangun dengan memanfaatkan dana ketahanan pangan di atas tanah kas desa seluas 21 hektare.

Di kawasan tersebut terdapat kolam ikan, tanaman pisang emas, serta tanaman tebu yang telah ada sebelumnya dan terawat dengan baik.

Menurut Tupin, pengembangan kawasan tersebut juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli desa. Pada tahun 2025, PADes Wonokerto tercatat Rp97 juta.

Sementara dalam APBDes 2026, pemerintah desa menargetkan pendapatan asli desa dari pengelolaan tanah kas desa dan pemanfaatan Bukit Jenggolo mencapai Rp300 juta.

“Dalam APBDes 2026 kami menetapkan PADes dari pengelolaan TKD dan memanfaatkan Bukit Jenggolo ini kita anggarkan Rp300 juta,” tuturnya.

Tupin mengatakan Bukit Cinggolo mulai dikenal pengunjung dari luar Kabupaten Lumajang. Sejumlah wisatawan bahkan datang dari luar Jawa.

Ia menyebut peserta kegiatan sebelumnya berasal dari Lampung. Wisatawan dari Bali juga datang dengan lima kendaraan untuk berkemah di kawasan tersebut.

“Alhamdulillah, ada tetangga juga dari Belanda datang ke sini untuk menikmati Bukit Jenggolo,” pungkasnya. (*)


 

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.