Pasuruan,- Masyarakat Suku Tengger di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, menggelar rangkaian Hari Raya Karo Tahun 1947 Saka, Rabu (29/7/2026).
Salah satu prosesi yang menjadi perhatian adalah Tari Sodoran yang dibawakan oleh para pemuda dari 11 desa di kawasan Tengger Brang Wetan.
Ratusan warga mengenakan pakaian adat khas Tengger dan berjalan menuju lokasi upacara di Desa Tosari.
Dengan iringan musik tradisional, mereka mengikuti rangkaian ritual yang digelar setiap memasuki bulan kedua dalam kalender Tengger atau sekitar dua bulan setelah Upacara Yadnya Kasada.
Tokoh masyarakat Tengger, Agus Stya Wardhana, mengatakan Hari Raya Karo merupakan simbol sangkan paraning dumadi, yang menggambarkan asal-usul kehidupan dan penciptaan manusia oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Salah satu rangkaian penting dalam perayaan tersebut adalah Tari Sodoran.
“Upacara Hari Raya Karo itu adalah simbol sangkan paraning dumadi, di mana cikal bakal umat manusia dan dunia ini diciptakan oleh Tuhan,” ujar Agus.
“Hari ini salah satu rangkaian daripada Hari Raya Karo yaitu Tari Sodor seperti yang dilaksanakan di Desa Tosari, dengan peserta penarinya dari 11 desa di Tengger Brang Wetan,” tambahnya.
Tari Sodoran dibuka oleh para sesepuh adat, kemudian dilanjutkan secara bergantian oleh para penari dari masing-masing desa.
Tarian sakral ini menjadi bagian dari tradisi yang terus dipertahankan masyarakat Tengger sebagai media untuk mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.
Salah seorang peserta Tari Sodoran asal Desa Kedowo, Arya Kakanda, mengaku tidak merasa gugup saat tampil karena telah terbiasa mengikuti latihan
“Kalau sudah terbiasa sih, ya enggak terlalu grogi,” ungkap Arya.
Menurut Arya, para penari menjalani latihan selama sekitar 15 hari sebelum tampil dalam upacara Hari Raya Karo.
“Latihannya sekitar 15 hari. Karena sudah sering ikut, jadi saat tampil tidak terlalu grogi,” ujar Arya.
Selain menjadi bagian dari ritual keagamaan, Hari Raya Karo juga menjadi momentum mempererat hubungan antarmasyarakat Tengger.
Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, warga biasanya saling mengunjungi keluarga maupun tetangga sebagai tradisi silaturahmi yang terus dijaga hingga kini. (*)












