Probolinggo,– Video yang memperlihatkan penampilan sejumlah waria berjoget disertai saweran di lingkungan SDN Pakuniran 1, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo beredar luas di media sosial (medsos).

Video yang sempat beredar melalui akun TikTok @kostreva itu menampilkan sejumlah orang berjoget di tengah kerumunan warga.

Dalam rekaman tersebut terlihat seorang pengisi acara mengenakan pakaian minim, disertai aksi saweran dan sorak-sorai penonton.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, menyatakan pihaknya telah melakukan klarifikasi awal dan memperoleh penjelasan bahwa kegiatan pentas seni tersebut merupakan agenda warga sekitar yang kebetulan singgah di area sekolah usai mengikuti pawai, Minggu (21/6/26).

“Mohon maaf, saya baru mengetahui kejadian itu dini hari tadi. Setelah itu kami langsung melakukan konfirmasi dan meminta klarifikasi kepada pihak sekolah,” ujar Hary Tjahjono saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp (WA), Senin malam (22/6/2026).

Berdasarkan penjelasan awal yang diterima Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, kegiatan tersebut bukan merupakan agenda resmi sekolah.

Menurut pihak sekolah, kegiatan bermula dari pawai yang diselenggarakan warga di luar lingkungan sekolah, kemudian rombongan peserta pawai singgah di area SDN Pakuniran 1.

“Pihak sekolah sudah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut murni dilaksanakan oleh warga setempat. Sebelum ke sekolah ada pawai terlebih dahulu di luar. Setelah selesai, rombongan mampir ke sekolah, yang tampil kebanyakan warga,” kata Hary.

Ia menambahkan, pihak sekolah juga telah menyampaikan permohonan maaf atas munculnya polemik yang berkembang di masyarakat.

Selain itu, sekolah diminta menyusun laporan kronologis secara tertulis untuk disampaikan kepada Disdikdaya Kabupaten Probolinggo.

“Sekolah akan memberikan penjelasan tertulis kepada kami terkait kronologi lengkap sampai munculnya kejadian tersebut,” tuturnya.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan kepada Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, pihak sekolah menjelaskan bahwa kegiatan yang terekam dalam video merupakan kegiatan masyarakat sekitar yang berlangsung setelah pawai.

Ditegaskannya, kegiatan tersebut murni dilaksanakan warga sekitar dan yang tampil adalah para waria alias LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender).

Hary mengaku bahwa persoalan tersebut juga telah dikonfirmasikan oleh jajaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo. Menurutnya, penjelasan yang disampaikan kepada MUI sama dengan hasil klarifikasi awal yang diterima pihak Dinas.

“Sekretaris MUI juga sudah melakukan konfirmasi kepada kami sore tadi, dan kami sampaikan penjelasannya seperti itu,” sampainya. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.