Lumajang,- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Resort Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, masih berlanjut.

Pemadaman dilakukan dari darat dan udara. Selain pembasahan secara manual, helikopter water bombing dikerahkan untuk menjangkau kawasan yang sulit ditangani melalui jalur darat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan penanganan masih dilakukan untuk mengendalikan titik api dan mencegah munculnya kebakaran baru.

Lima personel BPBD Lumajang tiba di TNBTS Resort Ranupane, sejak Kamis (3/8/26) sekitar pukul 10.00 WIB.

“Mereka berkoordinasi dengan pihak TNBTS, relawan, dan unsur terkait sebelum bergerak menuju kawasan antara pintu pendakian hingga Pos 2 jalur pendakian Ranu Kumbolo,” kata Isnugroho, Jum’at (4/8/26) pagi.

Sekitar pukul 11.00 WIB, tim gabungan tiba di sekitar Pos 1. Petugas kemudian melakukan pembasahan menggunakan gepyok, jet shooter, dan blower.

“Namun, sekitar pukul 12.20 WIB, titik api dan kepulan asap masih terlihat dari Kantor Resort Ranupane. Titik tersebut berada di sekitar Pos 1 hingga Pos 2 jalur pendakian Ranu Kumbolo,” ucap dia.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Lumajang kemudian melakukan patroli dan pemantauan terhadap titik api baru pada pukul 13.45 hingga 15.10 WIB.

“Tim kemudian melakukan penanganan di wilayah terdampak sekaligus menyampaikan laporan mengenai kondisi terkini dari lokasi,” jelasnya.

Selain pemadaman manual, upaya percepatan penanganan dilakukan melalui water bombing menggunakan helikopter PK-DAP milik BPBD Provinsi Jawa Timur.

Operasi water bombing dimulai dari Lapangan Ranupane pada pukul 07.56 WIB. Helikopter tersebut melakukan penyiraman dari udara ke area terdampak karhutla,” beber dia.

“Dalam operasi tersebut, helikopter melakukan 35 kali rit dengan total sekitar 35.000 liter air yang dijatuhkan ke kawasan terdampak kebakaran,” tambahnya.

Namun, operasi water bombing dihentikan pada pukul 12.00 WIB. Kondisi cuaca berupa kabut dan angin kencang di sekitar Gunung Semeru menjadi kendala operasi udara.

Setelah operasi dihentikan, helikopter kembali menuju Bandara Abdurahman Saleh, Kabupaten Malang.

Penanganan dari darat tetap dilanjutkan untuk memantau titik api serta melakukan pembasahan pada kawasan yang berpotensi kembali terbakar. (*)


 

Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.