Jember,- Kemarau di Kabupaten Jember diprediksi masih berlangsung hingga Oktober 2026. Kondisi ini membuat lebih dari 1.000 kepala keluarga (KK) di 8 kecamatan alami krisis air bersih.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember pun meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi dampak kemarau berkepanjangan, terutama kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, sebelumnya puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.

Namun berdasarkan informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kemarau berpotensi berlanjut hingga Oktober.

“Dengan kemungkinan masih berlangsung sampai dengan bulan Oktober, maka dua bulan ini kita betul-betul sangat-sangat waspada,” kata Edy saat konferensi pers di Kantor BPBD Jember, Selasa (1/9/26).

Hingga 31 Agustus 2026, BPBD mencatat kekeringan telah berdampak di delapan wilayah, yakni Kecamatan Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji, serta Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak, BPBD bersama sejumlah pihak telah menyalurkan sekitar 507.500 liter air melalui 103 kali pengiriman.

Distribusi air dilakukan menggunakan mobil tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter. Armada tersebut berasal dari BPBD, Perumda Air Minum (PDAM), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim), serta PMI.

Edy menyebut, pengiriman air dilakukan secara bergiliran berdasarkan hasil asesmen di masing-masing wilayah. Frekuensi distribusi disesuaikan dengan jumlah KK yang terdampak.

“Setiap hari kita bergiliran menyesuaikan hasil asesmen. Jadi asesmennya itu bisa jadi ada yang dua hari sekali terkirim, ada yang tiga hari terkirim, ada yang empat hari terkirim, tergantung dari jumlah KK terdampaknya,” jelasnya.

Prediksi BMKG Meleset

Kondisi kekeringan di Jember juga tidak sepenuhnya sesuai dengan pemetaan awal yang dikeluarkan oleh BMKG.

Sebelumnya, lima kecamatan masuk zona merah, tiga kecamatan zona kuning, dan 23 kecamatan zona hijau.

Dari lima wilayah zona merah, empat telah mengalami kekeringan, yakni Kalisat, Rambipuji, Patrang, dan Sumbersari. Sementara Tempurejo hingga 31 Agustus belum mengalami kondisi kekeringan seperti yang diperkirakan.

Untuk zona kuning yang meliputi Silo, Mayang, dan Pakusari, kekeringan terjadi di Silo dan Pakusari. Sedangkan Mayang diprediksi belum terdampak.

Sebaliknya, wilayah yang masuk zona hijau juga alami kekurangan air bersih. Kondisi tersebut terjadi di Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, dan Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.

Di Banjarsari, BPBD telah melakukan distribusi air sebanyak lima kali. Sementara di Panduman, pengiriman dilakukan enam kali.

Namun, persoalan di Panduman tidak sepenuhnya disebabkan faktor kemarau. Gangguan teknis pada sistem penyediaan air bersih melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), seperti kebocoran pipa dan mesin pompa yang tidak berfungsi, turut menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air.

BPBD kemudian berkoordinasi dengan Dinas PUPR, pemerintah desa, dan pengurus HIPPAM untuk memperbaiki jaringan tersebut.

Setelah sistem penyediaan air kembali berfungsi, distribusi air dari BPBD ke Panduman dihentikan sekitar sepekan terakhir.

Empat tandon yang sebelumnya ditempatkan di Panduman kemudian ditarik untuk dipersiapkan menghadapi wilayah lain yang membutuhkan bantuan.

Secara keseluruhan, BPBD telah mengirim sekitar 30 tandon ke sejumlah lokasi terdampak kekeringan dan masih memiliki sekitar 325 tandon.

Untuk menghadapi kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober, BPBD Jember menyiapkan enam sumber air.

Sumber tersebut berada di Desa Garahan Kecamatan Silo, Kebun Glantangan Kecamatan Tempurejo, GSG, PDAM Kaliwates, Yayasan Ibnu Katsir Kaliwates, serta SMK Negeri Balung.

Edy memastikan seluruh sumber air tersebut masih dalam kondisi baik dan dapat digunakan untuk mendukung distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

“Jadi ada enam sumber air yang kita siapkan dan sejauh ini semuanya masih kondisinya bagus dan bisa menjangkau. Kami sudah mengambil sebanyak 507.500 liter air,” ucap dia.

Waspadai Karhutla

Selain kekeringan, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla selama kemarau berlangsung.

Sepanjang 2 Januari hingga 31 Agustus 2026, BPBD Jember mencatat 345 kejadian bencana. Sebanyak 274 kejadian merupakan bencana alam dan 71 lainnya bencana nonalam.

Bencana alam didominasi kejadian hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

“Dua orang meninggal dunia dalam rangkaian kejadian bencana tersebut, masing-masing di wilayah Pakis dan Curahnongko,” Edy memungkasi. (*)


 

Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.