Probolinggo,- Sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Kota Probolinggo, dalam beberapa hari terakhir mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin dari biasanya.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo, kondisi tersebut terjadi karena wilayah Jawa Timur mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo, Boedi Harjanto, menjelaskan bahwa kondisi ini dikenal sebagai fenomena bediding.
Berdasarkan informasi dari BMKG dan BPBD Jawa Timur, fenomena tersebut mulai dirasakan di Probolinggo dan wilayah sekitarnya sejak awal Juni 2026.
“Fenomena bediding ini diperkirakan akan menyebabkan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan fenomena bediding pada tahun sebelumnya,” kata Boedi.
Boedi menjelaskan, fenomena bediding terjadi ketika sebagian besar wilayah Jawa Timur memasuki musim kemarau yang ditandai dengan langit cerah dan minim tutupan awan.
Kondisi tersebut membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Selain itu, fenomena ini juga dipengaruhi oleh angin muson timur yang membawa massa udara dingin dan kering dari Australia ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
“Berdasarkan data kami, suhu udara pada siang hari berkisar antara 32 hingga 35 derajat Celsius, sedangkan pada malam hari turun hingga 18 sampai 19 derajat Celsius,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena bediding diperkirakan masih akan dirasakan masyarakat hingga mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026. Setelah itu, intensitasnya akan mulai berkurang pada September hingga Oktober 2026.
“Kami mengimbau pada masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan, salah satunya karena angin yang berembus pada siang maupun malam hari cukup kencang,” imbuh dia. (*)












