Lumajang, – Suara gesekan hanger besi di atas pipa pajangan terdengar nyaring di salah satu sudut Plaza Lumajang, Senin (16/3/2026).

Namun bunyi itu bukan berasal dari tangan para pembeli yang memilah baju, melainkan dari jemari Yuni (40). Pegawai toko milik Hanafi (53) itu kembali merapikan deretan pakaian untuk kesekian kalinya.

Di koridor yang dulu padat oleh langkah kaki warga saat akhir pekan, kini hanya tampak pantulan cahaya lampu neon di lantai keramik yang lengang.

Plaza Lumajang, yang dulu menjadi kiblat berburu busana bagi warga dari Kecamatan Ranuyoso hingga Tempursari, kini seperti menyimpan kenangan masa lalu.

Membeli baju di tempat ini menjelang Lebaran pernah menjadi ritual kebanggaan bagi banyak keluarga. Dua pekan sebelum Idul Fitri, lorong-lorong plaza biasanya dipenuhi ribuan pengunjung yang saling berdesakan mencari pakaian baru.

Riuh tawar-menawar pedagang dan pembeli berpadu dengan aroma khas kain baru yang menyeruak dari tiap toko.

Namun tahun ini suasananya jauh berbeda. Lima hari menjelang Lebaran, koridor Plaza Lumajang masih tampak lengang.

Di salah satu sudut toko, Hanafi tampak duduk termangu. Sesekali ia menggulir layar ponselnya, menyaksikan orang-orang berjualan baju Lebaran melalui siaran langsung di TikTok.

Sementara di hadapannya, tumpukan gamis dan kemeja koko terbaru tersusun rapi, tetap kaku dalam lipatan yang tak kunjung disentuh pembeli.

“Ya begini kondisinya, sepi. Tidak seperti dulu,” kata Hanafi.

Bagi pedagang baju seperti dirinya, musim Lebaran yang dulu identik dengan lonjakan pembeli kini justru menjadi masa penuh ketidakpastian. Ia menilai perubahan perilaku belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya pengunjung plaza.

“Sekarang itu banyak online, terus orang di desa-desa juga banyak yang jualan baju. Jadi yang datang ke sini sedikit,” katanya.

Hampir 30 tahun perempuan paruh baya asal Madura itu mengadu nasib di kota yang berada di kaki Gunung Semeru. Selama puluhan tahun berdagang, ia telah melewati berbagai masa sulit. Namun menurutnya, kondisi saat ini adalah yang paling berat.

“Separah-parahnya krisis moneter 1998, tidak sampai membuat Plaza Lumajang sepi seperti sekarang,” kenangnya.

Ia menilai titik perubahan mulai terasa sejak pandemi Covid-19. Setelah itu, jumlah pengunjung plaza terus menurun dari tahun ke tahun.

“Mulai sepi itu kena Covid-19. Setelah itu sampai sekarang, tambah tahun tambah sepi. Tahun ini paling parah,” ujarnya.

Di usia yang tak lagi muda, Hanafi mengaku, tak banyak pilihan untuk bertahan. Ia masih kesulitan memanfaatkan media sosial untuk berjualan, apalagi harus tampil luwes berbicara di depan kamera seperti para penjual muda di platform digital.

Meski begitu, ia tetap berusaha membuka tokonya setiap hari. Baginya, rezeki adalah perkara yang tak sepenuhnya bisa diukur dari ramai atau sepinya pembeli.

“Ya sekarang kalau dibilang rugi ya tidak. Allah tidak tidur. Sehari masih ada saja yang beli satu atau dua orang. Disyukuri saja,” pungkasnya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.