Pasuruan, – Desa Welulang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, menyimpan cerita manis dari balik rimbun pepohonan. Di sanalah, ratusan kotak koloni lebah tersusun rapi di atas hamparan rerumputan, menjadi sumber penghidupan warga sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Di antara dengung lebah dan aroma madu segar, Tiagus (45) tampak sibuk memanen sarang-sarang yang telah penuh terisi. Dengan tangan terampil, ia mengangkat bingkai demi bingkai, memastikan setiap tetes madu terekstraksi sempurna.

Lelaki yang akrab disapa Agus ini telah hampir dua dekade menekuni budidaya lebah madu randu, mengikuti siklus alam yang tak pernah benar-benar bisa ditebak.

“Rasanya itu khas, lebih segar dan ada hangat di tenggorokan,” ujar Agus, Minggu (1/3/2026).

Menurutnya, madu randu memiliki keunggulan dari sisi warna yang lebih jernih dan aroma yang lembut. Karakter inilah yang membuat permintaan terus mengalir, baik dari pembeli lokal hingga luar daerah.

Dalam kondisi cuaca bersahabat dan bunga randu mekar sempurna, panen bisa dilakukan setiap 15 hari dengan hasil mencapai 4-5 kuintal madu segar.

Namun, di balik manisnya madu, ada kerja keras dan risiko yang harus dihadapi. Perubahan cuaca, kegagalan panen, hingga potensi pencurian menjadi tantangan sehari-hari.

“Kalau hujan sering turun, bunga cepat rontok. Otomatis hasilnya turun. Tapi kalau musimnya bagus, alhamdulillah panennya bisa melimpah,” tuturnya.

Madu hasil panen dijual dengan harga Rp65 ribu per kilogram untuk pembelian partai, dan Rp80 ribu per kilogram untuk eceran. Tak jarang, pembeli datang langsung ke lokasi untuk memastikan kualitas madu yang mereka bawa pulang.

Camat Lumbang, Didik Surianto, menilai budidaya lebah madu telah menjadi salah satu tulang punggung ekonomi warga. Selain di Welulang, sentra lebah juga berkembang di Banjarimbo, Panditan, dan Watulumbung.

“Terutama saat pandemi Covid-19, permintaan madu meningkat tajam. Banyak masyarakat mencari madu untuk menjaga daya tahan tubuh, sampai stok di peternak sering kewalahan,” ungkap Didik.

Dari rimbun pepohonan Welulang, madu randu tak sekadar menjadi hasil alam, melainkan harapan dan sumber penghidupan yang terus dijaga oleh tangan-tangan telaten para peternak. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.