Subang,- Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Muhammad Hilman Mufidi, mengajak mahasiswa baru Universitas Arya Wangsa (UAW) Subang, Jawa Barat, untuk menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bijak dalam kegiatan akademik.
Menurutnya, AI dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang efektif, tetapi tidak boleh menggantikan daya kritis, kreativitas, dan karakter mahasiswa.
Pesan tersebut disampaikan Gus Hilman saat membahas tema Penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan untuk Mahasiswa dan Membangun Karakter Growth Mindset di Perguruan Tinggi, di Kampus Universitas Arya Wangsa, Subang, Jawa Barat, Jumat (30/10/26).
Gus Hilman menilai perkembangan teknologi AI telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan tinggi. Teknologi tersebut digunakan mahasiswa maupun dosen untuk membantu berbagai aktivitas akademik, mulai dari mencari referensi, mengolah informasi, menyusun materi pembelajaran, hingga mendukung penelitian.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan yang ditawarkan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab dalam menggunakannya.
“Secanggih-canggihnya AI, tetap tidak sempurna. AI dirancang untuk memudahkan pekerjaan manusia, tetapi mahasiswa harus memahami bahwa AI bekerja dengan memprediksi jawaban berdasarkan pola dan data yang dipelajarinya. Karena itu, hasil yang diberikan AI belum tentu selalu benar,” ujar Gus Hilman.
Ia menjelaskan, mahasiswa tidak seharusnya menerima seluruh informasi yang dihasilkan AI begitu saja. Verifikasi sumber, ketepatan informasi, dan kemampuan menganalisis tetap menjadi bagian penting dari proses belajar di perguruan tinggi.
Menurutnya, penggunaan AI yang tidak disertai pemahaman justru berpotensi membuat mahasiswa bergantung pada teknologi. Kondisi tersebut dapat menghambat kemampuan mereka dalam mengembangkan gagasan, memecahkan masalah, dan menghasilkan pemikiran orisinal.
Gus Hilman juga menyoroti tingginya penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Mengutip Global AI Student Survey 2024 yang diterbitkan Digital Education Council, sebanyak 86 persen mahasiswa menggunakan AI dalam kegiatan studi mereka.
Survei tersebut melibatkan 3.839 mahasiswa jenjang sarjana hingga doktoral dari 16 negara. Rata-rata mahasiswa menggunakan 2,1 alat AI dalam kegiatan akademiknya.
Meski tingkat penggunaannya tinggi, survei yang sama menunjukkan masih adanya kesenjangan kemampuan. Sebanyak 58 persen mahasiswa merasa belum memiliki pengetahuan dan keterampilan AI yang memadai, sedangkan 48 persen mengaku belum siap menghadapi dunia kerja yang semakin berbasis AI.
Data tersebut, menurut Gus Hilman, menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan tinggi tidak cukup hanya mendorong mahasiswa menggunakan teknologi.
Perguruan tinggi juga harus membekali mereka dengan literasi digital, etika, kemampuan analitis, dan keterampilan untuk beradaptasi dengan perubahan.
“Jangan sampai mahasiswa menjadi pengguna AI yang aktif, tetapi tidak memahami cara menggunakannya dengan benar. Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu memakai teknologi, melainkan juga bisa menilai, mengkritisi, dan memanfaatkannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” katanya.
Gus Hilman turut menyoroti posisi Indonesia di tengah perkembangan teknologi AI global. Menurutnya, besarnya penggunaan AI di Indonesia perlu diikuti dengan penguatan kapasitas nasional dalam pengembangan teknologi, riset, dan inovasi.
Ia mengingatkan bahwa berbagai platform AI yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari perusahaan dan ekosistem teknologi luar negeri, termasuk Amerika Serikat dan China.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat kemampuan sumber daya manusia, perguruan tinggi, dan industri dalam negeri agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi asing.
“Pertanyaannya, ketika masyarakat Indonesia semakin banyak menggunakan AI, sejauh mana kita mampu mengembangkan teknologi AI sendiri? Kita tidak boleh hanya menjadi pengguna.
Indonesia harus menyiapkan talenta, memperkuat riset, dan mendorong inovasi agar mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi masa depan,” tuturnya.
Politikus muda PKB ini mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem tersebut. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang untuk melahirkan peneliti, inovator, dan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi.
Selain menekankan pentingnya literasi AI, Gus Hilman mengajak mahasiswa baru Universitas Arya Wangsa membangun growth mindset, yakni pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dan pengetahuan dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, latihan, keterbukaan terhadap kritik, dan pengalaman.
Ia mengatakan, kehadiran AI seharusnya menjadi peluang bagi mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas diri, bukan jalan pintas untuk menghindari proses pembelajaran.
Mahasiswa, lanjutnya, harus berani mencoba hal baru, tidak takut melakukan kesalahan, serta menjadikan perkembangan teknologi sebagai motivasi untuk terus belajar dan berinovasi.
“Mahasiswa harus memiliki growth mindset. Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah diketahui hari ini. Dunia terus berubah, teknologi terus berkembang, dan kita harus terus belajar. Gunakan AI untuk memperluas wawasan, bukan untuk berhenti berpikir,” tegasnya.
Gus Hilman juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dalam penggunaan AI. Mahasiswa harus tetap bertanggung jawab atas tugas dan karya yang dihasilkan, mencantumkan sumber secara tepat, serta menghindari praktik plagiarisme maupun penyalahgunaan teknologi.
Menurutnya, kecakapan teknologi harus berjalan beriringan dengan karakter, etika, dan tanggung jawab sosial.
Ia berharap mahasiswa baru Universitas Arya Wangsa mampu menjadi generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi tetap memiliki kemandirian berpikir dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi karakter manusia tetap menjadi fondasi utama. Kita ingin mahasiswa yang unggul dalam penguasaan teknologi, kuat dalam integritas, kreatif dalam mencari solusi, dan memiliki semangat untuk terus berkembang,” pungkasnya. (*)










