Lumajang,- Air yang biasanya mudah diperoleh dari sumur kini menjadi kebutuhan yang harus dihitung penggunaannya oleh warga Dusun Sebrang, Desa Bedayu Talang, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Selama empat bulan terakhir, sumur-sumur warga mengering akibat kemarau panjang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka bergantung pada pasokan air bersih dari bantuan pemerintah.

Bagi Sulastri, warga terdampak kekeringan di Desa Bedayu Talang, air yang tersedia harus diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendasar, seperti memasak dan minum.

Sebab persediaan air saat ini tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga, termasuk mencuci pakaian.

Kondisi itu membuat Sulastri harus menghemat air se-efisien mungkin. Ia mengurangi frekuensi mandi menjadi sekali sehari. Air yang sama juga digunakan untuk berwudu.

“Kalau mandi cuma sehari sekali, karena krisis air. Kecuali kalau wudhu, ya pakai air ini sudah,” kata Sulastri, Minggu (11/10/26).

Dijelaskan Sulastri, krisis air membuat rutinitas sederhana berubah menjadi persoalan yang harus diatur setiap hari.

Ketika air di rumah tidak mencukupi untuk mencuci pakaian, Sulastri terpaksa menempuh perjalanan menggunakan motor menuju Desa Klanting, Kecamatan Sukodono, yang masih memiliki sumber air.

“Jadi susah, memang sudah kering dan air dari pet memang sudah tidak ada,” keluh Sulastri.

Sumur miliknya telah mengering total. Ia dan warga lainnya kini bergantung pada distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, yang terakhir datang, Kamis 8 Oktober 2026.

Tidak hanya untuk kebutuhan sehari-har, Sulastri menyebut, tanaman manggis, pisang, dan durian yang menjadi komoditas yang mengalami penurunan hasil panen akibat kekurangan air.

“Sekarang kan musim manggis dan duren, itu tidak jadi (buahnya, red). Karena sumber airnya sudah tidak ada,” ujarnya.

Ketika bantuan air bersih belum tiba, sebagian warga memilih membeli air dari pedagang keliling. Pilihan itu menambah beban pengeluaran di tengah kesulitan memperoleh air.

“Kalau beli itu harganya Rp 160 ribu, untuk dua jeriken air. Tetapi jerikennya tidak besar,” imbuh Sulastri.

Sulastri berharap hujan segera turun agar warga tidak terus menghadapi kesulitan mendapatkan air.

“Semoga cepat ada hujan, tidak kemarau kayak gini. Karena susah air aja,” harapnya.

Sekedar informasi, krisis air bersih di Kabupaten Lumajang tidak hanya terjadi di Desa Bedayu Talang.

Data BPBD Kabupaten Lumajang mencatat, sebanyak 19.771 warga dari 6.064 kepala keluarga yang tersebar di 18 desa terdampak kekeringan.

Wilayah tersebut meliputi enam kecamatan, yakni Ranuyoso, Klakah, Padang, Gucialit, Senduro, dan Kedungjajang.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan pemerintah daerah telah mengambil langkah untuk mempercepat penanganan krisis air bersih.

Bupati Lumajang, sambungnya, telah mengirim surat kepada Gubernur Jawa Timur untuk meminta bantuan air bersih.

“Berkaitan waktu musim hujan cukup lama, Bupati Lumajang telah bersurat ke Gubernur Jawa Timur berkaitan permintaan bantuan air bersih,” ungkap Isnugroho. (*)


Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.