Pasuruan,- Sejumlah warga menggelar aksi tabur bunga dan doa bersama di Simpang Tiga Bukir, Kota Pasuruan, Rabu (17/6/2026) pagi. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk keprihatinan atas tingginya angka kecelakaan di Jalan Gatot Subroto yang disebut telah menelan korban jiwa dalam beberapa bulan terakhir.
Warga menilai, jalur dalam kota tersebut sudah tidak ideal dilalui kendaraan bertonase besar. Mereka meminta pemerintah segera melakukan pengalihan arus truk ke jalur tol untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Tokoh masyarakat Kota Pasuruan, Ayi Suhaya, menyebut sedikitnya sembilan orang meninggal dunia akibat kecelakaan di ruas jalan itu dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu segera direspons dengan kebijakan lalu lintas yang lebih tegas.
Ia menyoroti dampak pekerjaan peninggian Jembatan Bok Wedi yang disebut turut memengaruhi kepadatan kendaraan di jalur dalam kota.
“Truk-truk besar seharusnya tidak lagi melintas di Jalan Gatot Subroto. Dari Surabaya bisa melalui Exit Tol Raci, dan dari arah Probolinggo melalui Exit Tol Grati,” ujar Ayi di lokasi aksi.
Ayi menambahkan, kondisi jalan yang membelah kampung mebel tersebut saat ini dinilai rawan kecelakaan karena tingginya volume kendaraan berat yang melintas.
Dalam aksi itu, warga menyampaikan empat tuntutan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) dan DPRD Kota Pasuruan.
Empat tuntutan diantaranya meliputi pengalihan kendaraan berat ke jalur tol, penataan ulang rekayasa lalu lintas serta evaluasi terhadap pejabat terkait apabila dinilai tidak mampu menangani persoalan keselamatan jalan.
Mereka juga meminta DPRD Kota Pasuruan ikut bertanggung jawab dalam memperjuangkan aspirasi tersebut.
“Nah yang kami harapkan ada langkah nyata agar kejadian kecelakaan tidak terus berulang,” tandas Ayi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Pasuruan maupun instansi terkait atas tuntutan warga tersebut. (*)












