Lumajang, – Pagi itu, deretan selada hijau tampak segar berjajar rapi di atas pipa-pipa putih yang tersusun presisi. Tak ada tanah, tak ada lumpur.
Hanya air, nutrisi, dan ketelatenan. Di lahan seluas 18 x 22 meter di utara Kota Lumajang, Arif Hermawan (28) membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bertumbuh.
“Karena pesanan tambah banyak, akhirnya saya putuskan berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan fokus ke hidroponik,” kata Arif, Kamis (23/4/2026).
Namun siapa sangka, usaha yang kini mampu menghasilkan lebih dari 7 kuintal selada setiap panen ini berawal dari percobaan sederhana di ruang sempit loteng rumahnya.
Arif bukan lulusan pertanian. Ia menyelesaikan pendidikan di bidang ekonomi syariah. Dunia hidroponik awalnya asing baginya.
Tapi rasa ingin tahu dan tekad untuk berkembang membawanya belajar secara otodidak, mulai dari menonton video di YouTube hingga mengikuti seminar dan workshop ke luar kota.
“Saya kan bukan sarjana pertanian, jadi sama istri ini selain belajar dari YouTube juga ikut-ikut seminar dan workshop hidroponik sampai luar kota,” ujarnya.
Percobaan pertama jauh dari kata berhasil. Dengan 70 botol bekas yang dipotong sebagai media tanam, Arif justru mengalami kegagalan. Namun kegagalan itu tidak menghentikannya.
“Awal pakai botol air bekas dipotong itu 70 buah tapi gagal, dari sana terus belajar lagi sama istri,” kenangnya.
Ia kemudian memanfaatkan loteng rumah seluas 40 meter persegi dan membangun sistem hidroponik sederhana dengan 340 lubang tanam. Dari situlah titik balik dimulai.
Berbagai sayuran seperti selada, sawi, dan kangkung mulai tumbuh. Hasil panen pertama tidak langsung dijual, melainkan dibagikan kepada tetangga.
Respons positif dari lingkungan sekitar menjadi suntikan semangat bagi Arif untuk melangkah lebih jauh.
Perlahan, ia mulai memasarkan hasil panennya ke katering, warung makan, hingga penjual kebab dan burger. Dalam satu siklus panen 40-45 hari, ia mampu menghasilkan sekitar 60 kilogram sayuran dengan harga Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram.
Permintaan yang terus meningkat menjadi titik penting dalam perjalanan Arif. Ia mengambil keputusan besar: meninggalkan pekerjaannya sebagai sales marketing dan fokus penuh pada hidroponik.
“Ini modalnya saya dapat pinjam ke bank, Rp65 juta, tapi ini bertahap, sudah sekitar 4 tahun dari awal merintis sampai sekarang,” jelasnya.
Dengan modal tersebut, ia memperluas lahan menjadi 220 meter persegi dengan 4.200 lubang tanam. Produksi melonjak hingga lebih dari 300 kilogram per bulan.
Kini, hasilnya jauh lebih besar. Dari lahan yang lebih luas, Arif mampu menghasilkan lebih dari 7 kuintal selada setiap sekitar 40 hari.
Dengan harga rata-rata Rp30.000 per kilogram, omzetnya mencapai sekitar Rp21 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp15 juta per panen.
Permintaan semakin tinggi, terutama sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan sayuran segar dalam jumlah besar.
“Sekarang kami justru kekurangan bahan baku karena saking banyaknya pesanan yang masuk, satu dapur MBG bisa sampai 50 Kg mintanya,” ungkapnya.
Meski terlihat modern, metode hidroponik yang dijalankan Arif relatif sederhana namun disiplin. Ia menjaga kadar air, pH, serta nutrisi secara terukur.
Proses dimulai dari penyemaian menggunakan media rockwool selama tujuh hari, dilanjutkan ke fase remaja selama 20 hari, hingga fase dewasa selama 15 hari sebelum panen.
“Ukuran airnya dari penyemaian hingga dewasa itu beda jadi kita pisah-pisah, selain itu supaya ini bisa panen setiap minggu, terus ini tanpa pupuk, jadi hanya air bercampur nutrisi abmix,” jelasnya.
Tak hanya membangun usaha sendiri, Arif juga membuka jalan bagi orang lain. Ia kini membina sembilan mitra aktif, membantu mereka membangun instalasi hidroponik dan mendampingi proses awal.
Menariknya, Arif tidak mengikat para mitra untuk menjual hasil panen kepadanya.
“Saya ingin mereka besar karena kemampuan mereka sendiri, bukan terus-menerus mengekor di belakang saya,” tegasnya.
Baginya, kesuksesan bukan soal menjadi yang paling besar, tetapi bagaimana bisa tumbuh bersama.
“Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Fokus saya adalah membantu mereka agar bisa mandiri,” pungkasnya. (*)













