Lumajang, – Serangan penyakit pada tanaman pisang mulai menjadi perhatian serius di Kabupaten Lumajang.

Komoditas yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi petani tersebut kini menghadapi ancaman dari dua patogen utama yang menyerang dengan gejala berbeda, namun sama-sama berpotensi menyebabkan penurunan produksi hingga gagal panen.

Anggota Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Gucialit, Witono menjelaskan, sedikitnya terdapat dua jenis patogen yang saat ini menjadi perhatian di lapangan, yakni jamur Fusarium oxysporum f. sp. cubense (FOC) serta bakteri Ralstonia solanacearum yang menyebabkan Banana Blood Disease (BDB).

“Dua ini yang paling sering ditemukan di lapangan dan perlu diwaspadai petani karena gejalanya berbeda dan dampaknya juga serius pada tanaman pisang,” katanya, Rabu (22/4/2026).

Witono menjelaskan, perbedaan paling awal antara kedua penyakit tersebut dapat diamati dari kondisi daun tanaman. Pada infeksi FOC, gejala awal biasanya muncul pada daun tua yang mengalami perubahan warna menjadi kuning kehijauan.

Sedangkan, perubahan warna tersebut dimulai dari bagian pinggir daun, kemudian perlahan menjalar ke daun yang lebih muda.

“Daun paling muda justru menjadi yang terakhir menunjukkan gejala. Ini yang sering membuat petani terlambat menyadari serangan,” jelasnya.

Sementara itu, pada BDB, perubahan warna daun cenderung lebih cepat dan menyeluruh. “Daun nomor dua dan tiga akan tampak kuning pucat secara total, dengan pola penyebaran dari pangkal daun menuju bagian pinggir, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh bagian tanaman,” ungkapnya.

Selain pada daun, lanjutnya, perbedaan terlihat jelas pada batang semu. Tanaman pisang yang terserang FOC umumnya menunjukkan gejala berupa pecah membujur pada batang semu beberapa sentimeter di atas permukaan tanah. Kondisi ini bahkan bisa terjadi pada tanaman muda maupun anakan.

Dalam beberapa kasus, anakan menjadi kerdil, memiliki daun yang menyempit, serta batang semu yang tampak mengembang ke arah atas. Gejala tersebut kerap disalahartikan sebagai pertumbuhan tidak normal biasa.

Berbeda dengan itu, pada BDB, tanaman induk justru terlihat relatif normal pada tahap awal.

“Namun, anakan dengan cepat menunjukkan gejala seperti kerdil, layu, dan daun menguning ketika memasuki usia 2 hingga 3 bulan,” katanya.

“Ini yang membuat BDB lebih berbahaya karena terlihat sehat di awal pada tanaman induk,” tambahnya.

Perbedaan kedua penyakit tersebut, katanya, dapat diamati melalui jaringan dalam batang semu dan tangkai daun. Pada tanaman yang terinfeksi FOC, jika dipotong akan terlihat jaringan berupa garis berwarna hitam, ungu, coklat, atau kekuningan.

Namun, bagian empulur biasanya tidak menunjukkan pembusukan total.

Sementara pada BDB, kondisi berbeda ditemukan. Bagian dalam batang semu atau empulur akan terlihat membusuk dengan warna coklat kemerahan.

“Kalau BDB itu sudah jelas ada pembusukan di dalam jaringan, warnanya coklat kemerahan,” ujarnya.

“Pada bagian bonggol, FOC ditandai dengan perubahan warna menjadi hitam, coklat, atau ungu di bagian tengah saat dipotong. Adapun BDB akan mengeluarkan cairan berwarna coklat kemerahan ketika bonggol dibelah,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ketua P3NA Jawa Timur, Ishak Subagio, status Kabupaten Lumajang sebagai kota pisang harus diiringi dengan penguatan sistem produksi yang lebih serius dan terukur.

Menurut dia, pengembangan komoditas pisang tidak bisa hanya mengandalkan produksi di tingkat petani, tetapi harus melibatkan berbagai aspek secara terpadu.

“Lumajang kota pisang itu sudah melekat. Tapi harus dibarengi kegiatan yang serius dan kolaboratif,” kata Ishak.

Ishak menyebut, pihaknya telah menetapkan tiga varietas pisang unggulan di Kabupaten Lumajang yakni, pisang emas kirana, pisang agung, dan pisang pakak. Ketiga varietas tersebut lanjutnya, memiliki potensi ekonomi dan karakteristik khas yang perlu diperkuat.

“Kita sepakat dan sudah mendaftarkan tiga pisang ini sebagai unggulan. Tapi langkah strategis penguatannya harus dilakukan dan terukur,” jelasnya.

Ia menambahkan, arah pengembangan komoditas pisang di Lumajang harus dibuat lebih jelas, termasuk penentuan tujuan jangka panjang serta penegasan karakteristik masing-masing varietas.

“Ke khasan tiga jenis pisang itu harus dideskripsikan dengan baik, termasuk kandungan gizinya juga harus dijelaskan,” pungkasnya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.