PROBOLINGGO-PANTURA7.com, Wafatnya Presiden RI ke-3, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie menyisakan duka mendalam se-antero negeri. Komunitas hingga perorangan, berlomba mendokan yang terbaik bagi tokoh bangsa kelahiran Pare-pare Sulawesi Selatan itu.

Duka mendalam salah satunya ditunjukkan Pesantren Zainul Hasan (PZH) Genggong, di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Sebagai wujud simpatik, ribuan santri menggelar doa bersama atau istighosah qubro, Kamis (12/9) malam.

Istighosah yang digelar di masjid Al Barokah Genggong itu tak hanya diikuti oleh santri, akan tetapi juga oleh para peziarah maqbaroh Almarhum Al-Arifbillah KH. Moh Hasan. Mereka menyemut di dalam masjid untuk mendoakan BJ. Habibie.

Pengasuh PZH Genggong, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah menjelaskan, kepergian BJ Habibie merupakan kehilangan besar bagi bangsa dan negara. Sebab menurut Kiai Mutawakkil, BJ Habibie banyak merupakan salah satu putra terbaik bangsa.

“Kita kehilangan anak terbaik bangsa, pahlawan bangsa. Semoga amal kebaikannya diterima disisi Allah dan semoga beliau husnul khotimah,” kata Kiai Mutawakkil.

Ribuan santri menyesaki Masjid Al-Barokah Genggong saat gelaran Istighosah untuk Al-Marhum BJ. Habibie. (Foto : Moh Ahsan Faradies)

Semasa hidupnya, jelas Kiai Mutawakkil, BJ Habibie pernah mengunjungi Pesantren Genggong. Kiai Mutawakkil mengakui bahwa BJ Habibie banyak memberikan kontribusi bagi pesantren melalui pemikiran dan gagasannya.

“Beliau sempat hadir kesini, bersilaturahim. Beliau mengatakan kepada saya bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia ini bukan hanya wilayah atau penduduknya, tetapi juga integritas dan kecerdasan spritual,” tutur Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Timur ini.

Kecerdasan spritualitas versi BJ Habibie, cerita Kiai Mutawakkil, merupakan benteng untuk membangun bangsa yang sumber terakhirnya ada di pesantren. Hal inilah yang membedakan Indonesia dengan negara lain yang tanpa dilengkapi pendidikan di pondok pesantren.

“Beliau mengatakan, karena pesantren bukan hanya sekedar syiar agama dan bukan hanya lembaga pendidikan tapi merupakan situs sejarah meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Pesantren adalah benteng negara kesatuan,” ujar Kiai Mutawakkil.

Sebagaimana diketahui, BJ Habibi wafat, Rabu (11/9)  sekitar pukul 18.05 Wib di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta dalam usia 83 tahun. Jasad almarhum dikebumikan di TMP Kalibata bersebelahan dengan makam istrinya, Ainun Hasri Habibie. (*)

 

Penulis : Moh Ahsan Faradies

Editor : Efendi Muhammad

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here