PASURUAN-PANTURA7.com, Aksi damai peduli demokrasi Indonesia dilakukan oleh aktivis Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pasuruan, di jalan raya Alun-alun Bangil, Selasa (21/5/2019) sore.

Aksi ini mengajak seluruh elemen bangsa kembali bersatu pasca terkotak dalam faksun politik selama pemilu serentak 17 April berlangsung. Sedikitnya 130 massa dari pengurus cabang dan 7 pengurus komisariat PMII se-Pasuruan Raya terlibat.

“Pertama, kami mengajak masyarakat kembali percaya kepada penyelenggara pemilu dan mengajak masyarakat kembali damai pasca pemilu,” kata Koordinator Aksi, Muhammad Ainul Yaqin.

Selain itu, imbuh Yaqin, pihaknya meminta pemerintah mengevaluasi pemilu tahun 2019 karena banyak penyelengara tumbang, baik sakit ataupun meninggal dunia. “Rekomendasi kita adalah hapus pemilu serentak untuk pemilu berikutnya,” papar dia.

Yaqin menjelaskan, aksi tak sekedar orasi kebangsaan namun juga diwarnai teatrikal. Beberapa peserta aksi melakukan teatrial untuk menggambarkan kerja keras para penyelenggara pemilu, baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) ataupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Komisioner KPU Kab. Pasuruan Mohamad Husaini (berbatik) dan Anggota Bawaslu Kab. Pasuruan Misbahul Munir hadir dalam aksi damai peduli demokrasi yang digelar PC PMII Pasuruan. (Foto : Istimewa).

“Untuk menunjukkan kepada masyarakat, begini lho keterbukaan pemilu yang dilakukan penyelenggara dalam tugasnya. Tidak ada teknis-teknis yang menunjukkan keberpihakan terhadap salah satu paslon,” terangnya.

Yakin memastikan aksi damai tidak terkait dukung mendukung Capres-Cawaspres tertentu. Aksi damai digelar untuk menyelamatkan masa depan demokrasi dan memenangkan berita otoritarisme dan melawan kekuasaan yang anti demokrasi.

“Kami hanya ingin menyelamatkan demokrasi, siapapun presiden dan wakil presiden terpilih, biarlah itu menjadi urusan KPU,” demikian menurut Yaqin.

Anggota Bawaslu Kabupaten Pasuruan, Misbahul Munir yang hadir ditengah aksi bersama Komisioner KPU Kabupaten Pasuruan, Mohammad Husaini menyebut gerakan aktivis PMII Pasuruan sebagai ‘supporting moral kontitusional’ terhadap penyelenggara pemilu.

“Karena dalam Pemilu 2019, PMII juga bagian dari lembaga pemantau yang turut serta aktif memantau proses pelaksanaan pemilu,” tutur lelaki yang akrab dipanggil Krisna ini.

Mantan jurnalis ini berharap, keberadaan lembaga-lembaga mahasiswa seperti PMII, dapat menjadi penguat penyelenggara pemilu dalam melaksanakan tugasnya. “Agar kami bisa mewujudkan pemilu yang adil dan berintegritas,” tandasnya. (*)

 

Penulis : Moh. Jakfar
Editor : Efendi Muhammad

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here