Lumajang,- Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Lumajang, berdampak terhadap pendapatan sopir truk pengangkut pasir.

Mereka harus mengantre hingga sekitar dua jam untuk mendapatkan solar, sehingga waktu pengiriman pasir berkurang.

Joni, sopir truk pengangkut pasir asal Desa Pasirian, Kecamatan Pasirian, mengaku mulai mengantre di SPBU Sukodono pada Rabu, 21 Oktober 2026, sejak pukul 12.00 WIB.

Namun, hingga pukul 14.10 WIB, ia belum mendapatkan giliran untuk mengisi solar.

“Sudah dua jam antre solar. Enggak tahu (kenapa) ya, karena sudah beberapa hari ini agak langka, kayaknya sudah lebih dari dua minggu,” kata Joni, Rabu (21/10/2026).

Menurutnya, antrean panjang tanpa kepastian pengisian BBM menghambat aktivitas pengangkutan pasir dari tambang menuju tempat penampungan atau stockpile.

Kondisi tersebut membuat jumlah pengiriman yang bisa ia lakukan dalam sehari berkurang.

“Biasanya kalau normal bisa kirim dua kali. Kalau antrenya seperti ini hanya bisa melakukan pengiriman sekali,” ujarnya.

Berkurangnya jumlah pengiriman berdampak langsung terhadap pendapatan Joni. Ia mengaku kehilangan pendapatan harian hingga Rp 300.000 karena hanya bisa melakukan satu kali pengangkutan pasir.

“Karena biasanya dua kali angkut, gara-gara antre cuma bisa angkut sekali. Biaya sekali angkut kisaran Rp 200.000 hingga Rp 300.000,” katanya.

Joni mengatakan kerugian tersebut telah berlangsung selama sekitar dua pekan, seiring antrean solar yang menurutnya kerap menghambat aktivitas pengangkutan. Ia biasanya mengirim pasir ke luar daerah, terutama Kabupaten Probolinggo.

“Banyak lah, karena sering (telat kirim) ada kisaran dua mingguan. Karena biasanya saya ngirim di luar kota, paling sering di Probolinggo,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Pertamina mengenai antrean di sejumlah SPBU.

Menurut dia, Pertamina menyampaikan bahwa pasokan BBM ke Lumajang tidak mengalami pengurangan.

“Pasokan tetap hanya saja kebutuhannya bertambah karena banyak (pembeli dari luar Lumajang) yang datang,” ungkap Indah.

Indah mengatakan BBM yang masuk ke SPBU kerap langsung habis karena tingginya permintaan. Kondisi tersebut membuat ketersediaan solar di sejumlah SPBU belum kembali normal.

“Begitu memasok langsung habis, begitu datang langsung habis. Jadi belum normal lah,” ujarnya.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan tim Pertamina sedang melakukan pengecekan lapangan ke sejumlah SPBU di Lumajang untuk memastikan kondisi stok BBM.

“Tim masih di lapangan untuk melakukan pengecekan, nanti perkembangan informasinya akan kami sampaikan,” kata Ahad. (*)


Editor: Elha Hidayat

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.