Pasuruan,- Produksi gula di Kabupaten Pasuruan diproyeksikan meningkat pada musim giling tahun ini seiring membaiknya kualitas tebu.
Kondisi tersebut dinilai dapat mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat swasembada gula nasional sekaligus memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Kabupaten Pasuruan, Cholid Mawardi, saat Panen Raya Tebu Serentak di Desa Kedungbako, Kecamatan Rejoso, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan itu merupakan bagian dari panen raya serentak di 43 titik yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto dari Kabupaten Malang dan diikuti secara virtual oleh sejumlah daerah.
Menurut Cholid, musim giling tahun ini ditargetkan berlangsung selama 130 hingga 150 hari.
Ia berharap proses penggilingan dapat berjalan sesuai rencana sehingga produktivitas tebu dan kinerja pabrik gula tetap terjaga hingga akhir musim.
“Mudah-mudahan sampai akhir giling yang direncanakan 130 hari sampai 150 hari ini betul-betul sesuai dengan harapan. Artinya produktivitas memang mumpuni dan giling bisa optimal. Itu yang paling penting,” ujar Cholid.
Apabila target tersebut tercapai, pabrik gula di wilayah Pasuruan diperkirakan mampu memproduksi sekitar 200 ton gula kristal putih per hari.
“Dengan asumsi harga gula sebesar Rp15.500 per kilogram, nilai produksi itu diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi lebih dari Rp3 miliar per hari,” bebernya.
Selain produktivitas, kualitas tebu pada musim giling tahun ini juga menunjukkan peningkatan.
Rata-rata rendemen tebu telah berada di atas angka 6,5 dan kini mencapai kisaran 7.
Cholid mengatakan, sektor tebu rakyat di Kabupaten Pasuruan saat ini melibatkan sekitar 150 hingga 200 petani yang tergabung dalam sejumlah kelompok tani.
Luas areal tanam mencapai sekitar 2.400 hektare dan ditargetkan terus bertambah hingga sekitar 3.000 hektare melalui dukungan pasokan tebu dari daerah sekitar.
Menurutnya, keberhasilan musim giling juga memerlukan dukungan kebijakan pemerintah, khususnya terkait impor gula.
Ia berharap impor dilakukan secara terukur dan hanya saat produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Tinggal bagaimana komitmen negara sebetulnya. Bagaimana negara ini betul-betul tidak impor, sehingga ada ruang gerak untuk penjualan gula di dalam negeri. Impor memang dibutuhkan pada saat kita memang kekurangan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Komandan Lanud Muljono Kolonel Pnb Ahmad Mulyono menegaskan dukungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) terhadap program ketahanan pangan nasional, termasuk melalui pengembangan sektor perkebunan tebu.
“Panen raya ini menjadi bukti bahwa kolaborasi seluruh komponen bangsa mampu memberikan hasil nyata dalam meningkatkan produksi gula nasional. Kami siap terus mendukung berbagai program ketahanan pangan nasional sebagai bagian dari kontribusi TNI AU bagi kesejahteraan masyarakat,” cetus Mulyono. (*)












