Probolinggo,– Umat Hindu Suku Tengger di empat kabupaten, yakni wilayah Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, Senin (1/6/2026) dini hari, melaksanakan upacara Yadnya Kasada 1948 Saka di kawasan Gunung Bromo.
Prosesi Yadnya Kasada diawali dengan arak-arakan ongkek atau sesaji berisi hasil bumi yang dibawa warga menuju Pura Agung Luhur Poten yang terletak di lautan pasir.
Tepat pukul 03.00 WIB, rangkaian upacara dimulai dengan pembacaan sejarah Yadnya Kasada, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan ritual keagamaan secara bertahap.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan, pelaksanaan Yadnya Kasada tahun ini juga dilakukan pengukuhan tiga dukun pandita.
Tiga dukun berasal dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo; Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo; serta Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
“Dalam upacara yang dipusatkan di Pura Luhur Poten ini, rangkaian prosesi meliputi mekakat, dilanjutkan pembacaan sejarah Kasada hingga pelaksanaan ritual inti,” kata Bambang.
Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, prosesi ditutup dengan pelarungan ongkek atau sesaji hasil bumi ke kawah Gunung Bromo.
Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat Tengger atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Selain sebagai ungkapan syukur, larung sesaji juga menjadi doa bersama untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi masyarakat Suku Tengger serta kelestarian alam semesta.
“Harapan pada Kasada tahun ini lebih mengarah pada terwujudnya keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan lingkungan, sehingga ke depan kehidupan dapat berlangsung damai dan sejahtera,” imbuhnya.
Sementara itu, Romo Dukun Pandita asal Kabupaten Pasuruan, Agung Hudoyo, berharap perayaan Yadnya Kasada membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Suku Tengger.
“Saya berharap Yadnya Kasada tahun ini membawa kebaikan bagi masyarakat Tengger, sehingga mereka tetap menjaga budi luhur serta meneruskan warisan adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur,” harap dia. (*)












