Lumajang, – Abu vulkanik Gunung Semeru yang terus terjadi sejak awal 2026 mulai berdampak luas pada sektor pertanian warga di kawasan kaki gunung, khususnya di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Sejumlah komoditas buah seperti durian, pisang, dan langsep mengalami penurunan kualitas, bahkan sebagian tidak berbuah sama sekali.
Kondisi ini dirasakan petani saat memasuki musim durian pada April. Alih-alih panen melimpah seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak pohon justru tidak menghasilkan buah. Jika pun berbuah, kualitasnya dinilai menurun, baik dari segi rasa maupun tampilan.
Lukman (42) petani durian asal Desa Senduro mengatakan, hasil panennya merosot drastis dibandingkan musim sebelumnya. Dari 17 pohon durian yang dimilikinya, hanya sebagian kecil yang berbuah.
“Kalau sekarang, satu pohon paling hanya tujuh buah. Pohon lainnya tidak berbuah sama sekali. Rasanya juga hambar, tidak seperti biasanya,” kata Lukman, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, sebelum adanya intensitas abu vulkanik yang tinggi, pohon duriannya dikenal produktif. Dalam satu hari panen, ia bisa mendapatkan hingga 112 buah durian dengan kualitas rasa pahit manis dan tekstur lembut.
Namun, kondisi kini berubah. Selain jumlah buah yang menurun, warna daging durian juga mengalami perubahan.
“Sekarang warnanya agak bening, tidak seperti dulu,” katanya.
Menurut Lukman, situasi ini juga berdampak pada hubungan dengan pelanggan. Dalam beberapa hari terakhir, banyak pembeli yang menanyakan ketersediaan durian. Namun, ia terpaksa menyampaikan hasil panennya sangat terbatas, bahkan hampir tidak ada.
“Banyak pelanggan tanya, tapi saya harus bilang tidak ada. Kalau ada pun rasanya sudah tidak enak,” jelasnya.
Dampak serupa juga dirasakan para tengkulak durian di wilayah tersebut. Sutris (47) tengkulak asal Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro mengaku, mengalami kerugian akibat menurunnya kualitas durian yang ia beli dari petani.
Menurut dia, dalam kondisi saat ini, aktivitas kulak durian menjadi berisiko. Ia harus lebih selektif agar tidak merugi.
“Kalau sekarang kulak durian, tentu sangat rugi. Alternatifnya ya tetap kulak, tapi harus tahu kondisi buahnya. Kalau tidak tahu, lebih baik tidak usah,” kata Sutris.
Ia mencontohkan, pernah membeli satu pohon durian seharga Rp250 ribu dengan jumlah sekitar 30 buah. Namun, karena rasanya tidak sesuai harapan, ia kesulitan menjualnya di pasar.
“Rasanya tidak enak, akhirnya saya jual ke tukang es, harganya hanya Rp5 ribu sampai Rp7 ribu per buah,” katanya.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pedagang durian musiman. Asmadi, salah satu pedagang, mengaku memilih tidak berjualan untuk sementara waktu karena kualitas buah yang tidak menentu.
Menurut dia, abu vulkanik yang hampir setiap hari turun dalam beberapa bulan terakhir telah mengubah rasa dan tekstur durian secara signifikan.
“Kalau sekarang saya tidak berani jual durian, kecuali saya tahu sendiri kualitasnya. Kalau hanya sekadar informasi, saya tidak berani menjamin,” kata Asmadi.
Untuk diketahui, tidak hanya durian, buah lain seperti, pisang dan langsep juga mulai menunjukkan gejala serupa. Pisang yang biasanya memiliki rasa manis kini terasa berbeda, sementara langsep mengalami penurunan kualitas. (*)













