Lumajang, – Pasar Agro di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yang dibangun sejak 2024 kini baru bisa beroperasi secara parsial.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Lumajang, Muhammad Ridha, menjelaskan bahwa gedung besar pasar agro masih menunggu proses verifikasi dari kementerian atau dikenal dengan Bukti Administrasi Standar Daerah (BASD).
“Jadi gedung besar ini memang belum bisa kita operasikan karena sampai saat ini kami belum menerima BASD. Sementara kios dan warung-warung sudah mulai berjualan, meski tidak semua pedagang yang memegang izin aktif,” kata Ridha saat ditemui di kantornya, Senin (2/3/2026)
Ridha menegaskan, pihaknya telah melakukan penataan zonasi untuk kios dan blok pasar agar lebih tertata dan memudahkan pengunjung. Blok A diperuntukkan bagi agen perjalanan dan souvenir, Blok B untuk minuman seperti es, jus, dan olahan buah, Blok C khusus buah-buahan, dan Blok D untuk sembako.
Sementara Blok E hingga H digunakan sebagai warung-warung bagian belakang, termasuk untuk pisang gantungan dan pisang kirana.
“Untuk pisang gantungan, para pedagang bahkan berjualan sampai malam, dan tidak hanya pada hari pasar. Mereka melayani pembeli sepanjang hari,” jelas Ridha.
Menurutnya, pembagian zonasi ini bertujuan agar setiap jenis dagangan teratur dan memberi kenyamanan bagi pengunjung.
Selain itu, Ridha menekankan bahwa pihaknya akan mengevaluasi izin pedagang yang tidak aktif.
“Kami akan mencabut izin pedagang yang tidak berniat berjualan lagi, sehingga peluang ini bisa diberikan kepada BUMDes atau Kooperasi Merah Putih dari desa terdekat. Tujuannya agar pasar ini benar-benar berfungsi sebagai pusat ekonomi lokal, bukan hanya simbol atau formalitas izin,” jelasnya.
Ridha menambahkan, kios-kios depan telah dioperasikan dengan membagi beberapa blok yaitu, blok A, agen perjalanan elektronik dan souvenir (8 pedagang), blok B, minuman, jus, dan olahan buah, blok C, buah-buahan, blok D, sembako, blok E–H: warung-warung bagian belakang, termasuk pisang gantungan (16 pedagang), pisang kirana (6 pedagang), dan pisang biasa (12 pedagang).
Untuk diketahui, kios dan warung di bagian belakang gedung terdiri dari blok A sampai H dengan sekitar 50 pedagang. Sedangkan kios depan terdiri dari sekitar 70 pedagang.
Ridha menekankan bahwa data ini masih bersifat estimasi karena jumlah pasti pedagang bisa berubah seiring evaluasi izin dan keaktifan mereka.
Lebih lanjut, Ridha mengatakan, pasar agro ini dirancang untuk mendukung potensi desa, termasuk produk lokal unik dan kuliner khas Lumajang. Ia berharap, kerja sama dengan BUMDes atau koperasi lokal dapat membuka ruang usaha yang lebih terjangkau dan merata bagi masyarakat.
“Pasar ini bukan hanya soal kios atau gedung besar, tetapi bagaimana memanfaatkan potensi desa untuk ekonomi lokal. Kami ingin pasar ini jadi destinasi masyarakat dan wisatawan, sekaligus meningkatkan pendapatan warga sekitar,” ungkapnya.
Meski sebagian pasar sudah berjalan, Ridha mengakui ada kendala dalam mengoperasikan gedung besar. “Kami masih menyeleksi pelaku usaha yang berminat, karena belum semua memenuhi kriteria. Proses ini memang butuh waktu,” pungkasnya. (*)












