PROBOLINGGO-PANTURA7.com, Akhir pekan terakhir sebelum bulan ramadan, wisata edukasi Pantai Randutatah (Duta) Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo justru melompong. Tak banyak wisatawan terlihat menikmati eksotika alam di kawasan konservasi manggrove tersebut.

Pengelola Pantai Duta Abdul Aziz mengatakan, penurunan kunjungan di pantai yang dibuka pada tahun 2016 itu tak hanya terjadi saat libur akhir pekan ini saja. Beberapa pekan sebelumnya, Pantai Duta memang sudah mengalami penurunan kunjungan.

“Kalau dulu tiap hari Minggu bisa mencapai 5 ribu pengunjung, tapi kali ini maksimal seribu saja. Kalau hari-hari biasanya, dulu sekitar 2 ribuan, sekarang paling banyak hanya 150 orang per hari,” kata Aziz, Minggu (5/5/2019).

Suasana Wisata Pantai Duta menjelang puasa. (Foto : Moh Ahsan Faradies).

Turunnya animo warga untuk mengunjungi Pantai Duta, menurut Aziz, belum ia ketahui penyebab pastinua. Justru Aziz memperkirakan, saat bulan puasa nanti jumlah pengunjung akan kian merosot dibanding hari-hari sebelum ramadan.

“Saya prediksi bakalan sepi, karena hari-hari biasa seperti sekarang pengunjungnya saja bisa dihitung dengan jari. Apalagi kalau sudah bulan puasa, dimana orang-orang tidak bisa makan dan sebagainya,” terang dia.

Terpisah, salah satu pengunjung Pantai Duta Hafidzul Ahkam (29) menyebut, salah satu faktor berkurangnya pengunjung karena tarif karcis yang terus melejit. Padahal sebelumnya, Pantai Duta dikenal sebagai destinasi wisata bahari yang tak menguras kantong pengunjung.

“Dulu pengunjung cukup modal Rp. 5-10 ribu saja, itupun sekali bayar. Kalau sekarang, awal masuk ditarik Rp. 5 ribu per kepala. Sesampainya di parkiran, kembali ditarik uang untuk parkir, kalau sepeda motor Rp. 5 ribu dan mobil Rp. 10 ribu,” keluh Hafidz.

Diketahui, pembengkakan bea masuk Pantai Duta tak lepas dari pengambilalihan pengelolaan dari paguyuban warga oleh pihak desa dan pemerintah daerah, beberapa bulan lalu. Pasca pengambilalihan tersebut, jumlah pengunjung disebut merosot hingga 75 persen. (*)

 

 

Penulis : Moh Ahsan Faradies

Editor : Efendi Muhammad

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *