Jember,-Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Sungai Badean memicu banjir bandang di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Senin (2/2/26) malam.

Peristiwa ini memaksa puluhan warga mengungsi dan menyebabkan satu orang dilaporkan hilang terseret arus.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan, banjir bandang terjadi sekitar pukul 19.40 WIB setelah debit Sungai Badean meningkat drastis.

Arus deras yang membawa lumpur dan material kayu meluap ke kawasan permukiman warga.

“Informasi awal, ada satu warga yang terseret arus. Hingga pukul 23.50 WIB korban belum ditemukan dan pencarian akan dilanjutkan besok pagi,” kata Edy.

Dampak terparah terjadi di Desa Pakis, khususnya di Dusun Pertelon RT 07 RW 02. Empat dapur rumah warga yang berada di bantaran sungai dilaporkan rusak berat akibat tergerus banjir.

Dapur tersebut milik Yuliatin (37), Wahid (52), Madruji (51), dan Samad (65). Dua rumah terakhir juga kehilangan kandang ternak.

Selain itu, enam rumah warga terendam lumpur setinggi sekitar 15 sentimeter, sementara halaman sekitar 30 rumah lainnya tertutup lumpur dengan ketinggian mencapai 20 sentimeter.

Sebanyak 30 jiwa terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke rumah warga serta titik aman lain di Desa Pakis.

Banjir juga berdampak ke Kecamatan Rambipuji. Di Dusun Tembelang, Desa Pecoro, dua rumah warga terendam lumpur hingga 40 sentimeter. Sebuah barongan bambu roboh dan menghambat aliran sungai.

BPBD mencatat, hujan dengan intensitas sedang mulai turun sejak pukul 14.00 WIB di wilayah hulu Sungai Badean.

Sekitar pukul 16.30 WIB, debit air sungai meningkat dan berubah keruh. Tiga jam berselang, banjir bandang melanda permukiman dengan arus kuat.

Edy menambahkan, sebelumnya BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Jawa Timur pada periode 1–10 Februari 2026, termasuk potensi banjir bandang di Kabupaten Jember.

Pada Senin malam, tim gabungan melakukan penanganan di lapangan, mulai dari evakuasi warga, pendataan kerusakan, hingga upaya pencarian korban hilang.

Meski air Sungai Badean telah surut dan cuaca berawan, warga terdampak masih bertahan di lokasi pengungsian.

BPBD merekomendasikan langkah lanjutan berupa pembersihan lumpur di rumah dan akses jalan, evakuasi material bambu yang menghambat aliran sungai, penyaluran bantuan logistik dan dapur umum, layanan kesehatan bagi warga terdampak, serta kerja bakti bersama.

Penanganan bencana melibatkan berbagai unsur, di antaranya BPBD, Sekretariat Daerah, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Tagana, Muspika setempat, relawan, serta Desa Tangguh Bencana di wilayah terdampak. (*)

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.