Menu

Mode Gelap
Gerakan Solidaritas untuk Affan Kurniawan, Penegakan Keadilan hingga Salat Ghaib Pemkab Jember Perpanjang Bebas Denda Pajak hingga Akhir Tahun, Tarif Retribusi Pasar Juga Diturunkan Jelang Konfercab NU Kraksaan, Nahdliyin Mulai Suarakan Uneg-unegnya Sesalkan Kerusuhan di Jakarta, Ojol Probolinggo Gelar Tabur Bunga untuk Affan Kurniawan Kisah Pilu Guru Honorer di Jember; Tempuh Jarak 13 KM, Wafat Usai Melahirkan Dulu Hanya Makan Sekali Sehari, Kini Siswa SD Ini Bisa Makan Dua Kali Berkat Program MBG

Budaya · 10 Jul 2025 15:52 WIB

Diresmikan Saat Purnama 1992, Pura di Senduro Kini Jadi Titik Sakral Umat Hindu


					Upacara Piodalan di Pura Mandhara Giri Semeru Agung. (Foto: Asmadi). Perbesar

Upacara Piodalan di Pura Mandhara Giri Semeru Agung. (Foto: Asmadi).

Lumajang, – Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Indonesia, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, menyebut Pura Mandhara Giri Semeru Agung sebagai titik penting spiritual bagi umat Hindu sejak resmi difungsikan pada bulan purnama tahun 1992.

Setiap tahun, momentum tersebut diperingati lewat upacara Pujawali sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sakral pura yang terletak di lereng Gunung Semeru.

Dalam pernyataannya saat menghadiri Pujawali tahunan, Cok Ace menjelaskan bahwa tanggal bulan purnama yang dipilih sebagai waktu pelaksanaan ritual bukan sekadar mengikuti tradisi, tetapi berkaitan langsung dengan sejarah pendirian dan pengaktifan fungsi pura secara spiritual.

“Kenapa di bulan purnama? Karena pada bulan purnama tahun 1992 ini kita menetapkan sebagai hari dimulainya fungsi pura ini. Jadi ini bukan ulang tahun Tuhan, tapi inilah peringatan kami bahwa pura ini digunakan mulai saat itu,” jelas Cok Ace.

Pujawali yang dilaksanakan berdasarkan kalender Isyakat ini merupakan bagian dari siklus upacara rutin tahunan, lima tahunan, dan sepuluh tahunan. Upacara tahunan dihitung menggunakan satu kerbau, lima tahunan dengan tiga kerbau, dan sepuluh tahunan menggunakan 13 kerbau.

Cok Ace menegaskan, selain sebagai tempat ibadah, Pura Mandhara Giri Semeru Agung juga menjadi simbol jembatan spiritual antara umat Hindu di Bali dan Jawa Timur.

Sementara itu, pengurus harian pura, Wira Dharma menambahkan, bahwa upacara tahun ini berlangsung selama 11 hari, dimulai dari puncak Pujawali hingga upacara penutupan atau penyinepan pada tanggal 21.

“Setiap hari ada umat dari daerah berbeda yang datang ke sini secara bergiliran. Ini pura yang dituakan dan dihormati umat Hindu, tidak hanya dari Bali, tapi juga dari berbagai wilayah di Jawa Timur,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Pengurus Harian Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Wira Dharma menyampaikan,  di Lumajang kembali menjadi pusat perhatian umat Hindu dengan digelarnya rangkaian upacara tahunan yang berlangsung selama 11 hari.

“Kegiatan keagamaan yang digelar setahun sekali ini dimulai sejak hari ini, dengan puncak acara yang akan berlangsung hingga tanggal 21 mendatang,” pungkasnya. (*) 

 


Editor: Ikhsan Mahmudi

Publisher: Keyra


Artikel ini telah dibaca 69 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Terinspirasi Pejuang Kemerdekaan, Peserta Tajemtra Berusia 70 Tahun ini Tuntaskan Rute 30 KM

24 Agustus 2025 - 08:33 WIB

15 Ribu Peserta Semarakkan Tajemtra 2025, Termasuk WNA China

24 Agustus 2025 - 02:02 WIB

Tajemtra 2025 Siap Digelar, 15.171 Peserta Terdaftar

22 Agustus 2025 - 19:22 WIB

Dorong Wisatawan Kenali Budaya Tengger, Bupati Gus Haris Siapkan Kalender Even di Bromo

9 Agustus 2025 - 20:51 WIB

Hari Raya Karo, 3 Desa Lereng Bromo Probolinggo Gelar Ritual Tari Sodoran

9 Agustus 2025 - 18:19 WIB

Wisatawan Mancanegara Ramaikan Tradisi Jolen di Lereng Gunung Semeru

28 Juli 2025 - 19:28 WIB

Tradisi Ujung dan Ujub, Upaya Menolak Bala di Desa Kandangan

28 Juli 2025 - 18:00 WIB

Dari Tumpeng hingga Sayuran, Warga Berebut Isi Jolen Penuh Kegembiraan

28 Juli 2025 - 14:24 WIB

Ada Nilai Filosofis Calon Arang dalam Pementasan Seni Menyuarakan Dharma

21 Juli 2025 - 09:26 WIB

Trending di Budaya