Jember,– Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Jember mulai melakukan penjangkauan terhadap tiga siswa Sekolah Rakyat (SR) di Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung, yang diduga menjadi korban kekerasan oleh mahasiswa Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI).
Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinsos Jember, Sugeng Riyadi, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan korban, pihak Sekolah Rakyat, serta Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.
“Teman-teman OPD masih melakukan penjangkauan, masih komunikasi dengan korban, pihak SR dan TKSK,” kata Sugeng, Selasa (20/10/26).
Sugeng menjelaskan, laporan terkait dugaan kekerasan itu diterima melalui hotline Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sekitar pukul 09.00 WIB.
Setelah menerima laporan, pihaknya melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak terkait.
Meski demikian, Dinsos belum melakukan pendampingan langsung karena masih memastikan kebutuhan serta kesiapan korban.
“Kita tidak bisa tiba-tiba datang. Kita komunikasi dulu dengan korban dan SR, serta memastikan posisi kita di sana,” ujarnya.
Menurut Sugeng, pendampingan akan disesuaikan dengan kebutuhan korban, termasuk kemungkinan bantuan psikologis apabila diperlukan.
“Kita lihat apa yang dibutuhkan korban, apakah pendampingan, psikolog atau lainnya,” katanya.
Saat ini, petugas masih berkomunikasi dengan korban dan menunggu kesediaan mereka untuk menentukan waktu serta tempat pendampingan.
“Teman-teman masih komunikasi, menunggu kesiapan atau kesediaan korban, di mana dan jam berapa. Karena kita juga baru melakukan pemantauan,” tegasnya.
Sementara itu, terkait status dan tugas mahasiswa Unhan RI yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut, Sugeng mengaku belum mengetahui secara pasti.
“Kemarin waktu acara kita juga bertemu dengan teman-teman Unhan. Sepertinya melatih disiplin atau apa, tetapi saya tidak paham betul Unhan dalam posisi apa,” pungkas dia. (*)












