Lumajang,- Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menutup total jalur pendakian Gunung Semeru setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Blok Ranu Kembang, sekitar jalur pendakian, pada Rabu (26/8/26).

Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, penutupan dilakukan untuk mendukung proses pengendalian dan pemadaman kebakaran serta evakuasi pengunjung yang masih berada di dalam kawasan.

“Penutupan dilakukan untuk mendukung kelancaran proses pengendalian, pemadaman kebakaran, serta evakuasi pengunjung yang masih berada di dalam kawasan, dengan mengutamakan keamanan dan keselamatan,” kata Rudijanta dalam pengumuman resminya.

Berdasarkan Pengumuman BB TNBTS Nomor PG.20/T.8/TU/HMS.01.07/B/08/2026, penutupan jalur pendakian Gunung Semeru berlaku sejak pengumuman diterbitkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Penutupan total dilakukan selama proses penanganan kebakaran dan evakuasi pengunjung berlangsung. Keselamatan pengunjung menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan tersebut,” bebernya.

Bagi pendaki yang telah membeli tiket melalui sistem booking online, BB TNBTS menyediakan opsi pengembalian biaya atau refund maupun penjadwalan ulang atau reschedule setelah jalur pendakian kembali dibuka.

Ketentuan serta mekanisme refund dan reschedule akan disampaikan lebih lanjut oleh pengelola yakni BB TNBTS.

“Meski jalur pendakian Gunung Semeru ditutup, akses transportasi Malang-Lumajang melalui Kecamatan Poncokusumo dan Kecamatan Senduro tetap dapat dilalui. Kunjungan wisata ke Ranu Regulo juga masih dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” ucapnya.

BB TNBTS mengimbau masyarakat, pengunjung dan pelaku jasa wisata bersama-sama menjaga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari ancaman kebakaran.

“Pengunjung diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan sumber api, termasuk menyalakan api unggun, membakar sampah, menyalakan petasan, kembang api maupun flare,” jelasnya.

BB TNBTS juga mengingatkan agar masyarakat menghindari aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran di kawasan konservasi. “Karena vegetasi saat ini kering,” Rudijanta memungkasi. (*)


 

Editor: Mohammad S

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.