Lumajang, – Kebiasaan memeluk dan mencium bayi saat lebaran yang sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang ternyata perlu diwaspadai dari sisi kesehatan.
Kontak fisik tersebut dapat menjadi salah satu jalur penularan virus, terutama jika dilakukan oleh orang dewasa yang sedang terinfeksi penyakit meski belum menunjukkan gejala.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Lumajang, dr. Marshal Trihandono mengatakan, bayi termasuk kelompok yang rentan terhadap penularan penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.
Menurutnya, penularan penyakit dapat terjadi tanpa disadari, terutama ketika orang dewasa yang terinfeksi belum menunjukkan gejala sakit.
“Memeluk atau mencium bayi dapat menularkan atau menjadi sarana perpindahan virus dari orang dewasa yang terinfeksi tanpa gejala,” kata Marshal, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, pada beberapa penyakit infeksi, seseorang sudah dapat menularkan virus meskipun belum merasakan gejala yang jelas. Kondisi ini membuat bayi perlu mendapatkan perlindungan ekstra dari kontak langsung dengan banyak orang.
Selain itu, Marshal menjelaskan pada penyakit campak terdapat fase awal yang disebut fase prodromal. Fase ini merupakan tahap awal setelah masa inkubasi, tetapi sebelum gejala khas penyakit muncul.
“Fase prodromal adalah fase awal dari suatu penyakit infeksi campak yang muncul setelah masa inkubasi tetapi sebelum gejala khas penyakit muncul,” katanya.
Pada fase ini, gejala yang muncul biasanya masih ringan dan tidak spesifik sehingga sering kali sulit memastikan penyakitnya sejak awal. Beberapa gejala yang muncul antara lain panas, batuk, dan pilek.
“Gejalanya biasanya demam, batuk, pilek, mata merah, lesu, dan tidak nafsu makan. Semua ini merupakan gejala yang muncul pada fase prodromal,” tambahnya.
Setelah fase tersebut, penderita kemudian akan memasuki fase erupsi yang ditandai dengan munculnya gejala khas berupa ruam merah pada kulit.
“Setelah fase prodromal kemudian akan masuk ke fase erupsi yang ditandai munculnya ruam merah,” kata dr. Marshal.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan P2KB Lumajang, hingga minggu ke-10 tahun ini tercatat terdapat 45 kasus suspek campak.
“Data kami sampai minggu ke-10 di tahun ini untuk jumlah suspek campak ada 45 kasus. Hasil laboratoriumnya masih menunggu dari BBLKM Surabaya, sehingga untuk yang positif campak secara laboratorium masih belum ada,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa anak yang mengalami demam disertai ruam atau bercak merah di kulit dikategorikan sebagai suspek campak sehingga perlu pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosisnya.
“Anak yang bergejala demam disertai ruam atau bercak merah di kulit disebut suspek campak. Perlu diperiksakan laboratorium untuk memastikan apakah positif campak atau bukan,” ujarnya.
Menurutnya, ruam merah pada kulit tidak selalu menandakan penyakit campak. Gejala serupa juga dapat terjadi pada beberapa penyakit lain.
“Gejala dengan ruam merah ini tidak hanya pada campak saja, tetapi juga bisa terjadi pada penyakit roseola infantum atau campak palsu, rubela, atau penyakit lainnya,” tuturnya.
Ia menambahkan, penyakit campak merupakan salah satu jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
“Karena itu penting bagi bayi dan anak diimunisasi campak agar mendapatkan kekebalan terhadap campak,” pungkasnya. (*)












