Lumajang, – Senja perlahan turun di langit Lumajang. Cahaya keemasan memantul di hamparan rumput dan jalur pedestrian Alun-alun Lumajang. Aroma gorengan yang baru terangkat dari wajan berpadu dengan wangi manis kolak dan sirup buah yang menggoda.
Menjelang waktu berbuka, denyut kehidupan di jantung kota itu terasa berbeda. Para pedagang sibuk melayani pembeli, suara tawar-menawar bersahut-sahutan, sementara anak-anak kecil berlarian dengan balon di tangan.
Di sudut lain, sejumlah keluarga telah menggelar tikar sederhana, menata takjil di atasnya, menanti kumandang adzan magrib dengan wajah penuh harap.
Di tengah keramaian pemburu takjil, seorang pria berambut pirang tampak antusias menyusuri deretan booth UMKM. Ia adalah Carlo, backpacker asal Italia yang tengah singgah di Lumajang.
Ramadan tahun ini menjadi pengalaman pertamanya menikmati suasana berbuka puasa di Indonesia, sebuah pengalaman yang sama sekali baru baginya.
Carlo menginap di Omah Sinau Gesang, sebuah ruang belajar sekaligus tempat singgah yang mempertemukannya dengan banyak cerita lokal.
Dipandu Haidar, pengelola tempat tersebut, Carlo menyusuri satu per satu lapak kuliner di sekitar alun-alun. Matanya berbinar melihat dimsum yang mengepul hangat, pentol bakar berlumur saus kacang, hingga gorengan berwarna keemasan yang ditata rapi di atas nampan.
“Wah, banyak sekali beragam makanan di sini, sampai bingung pilih yang mana,” katanya sambil menunjuk jajanan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Minggu (1/3/2026) sore.
Di salah satu lapak, Carlo berhenti cukup lama. Ia memperhatikan penjual lumpia yang dengan cekatan menggulung kulit tipis berisi sayuran, lalu menggorengnya hingga renyah. Ketika waktu berbuka hampir tiba, ia memutuskan memilih lumpia sebagai takjil pertamanya.
Langit semakin memerah. Detik-detik menjelang adzan terasa hening meski keramaian tak surut. Begitu adzan berkumandang dari masjid sekitar alun-alun, suasana berubah menjadi khidmat. Orang-orang serentak meneguk minuman, menggigit kurma, atau menyantap jajanan yang telah dibeli.
Carlo menggigit lumpia hangat dengan isian sayur segar. Saus manis-gurih yang melengkapinya membuatnya tersenyum lebar.
“Saya suka rasanya, ada isian sayuran di dalamnya, ada tambahan sausnya juga. This is good!” katanya sembari mengacungkan jempol, dibantu Haidar menerjemahkan antusiasmenya.
Namun bagi Carlo, Ramadan di Lumajang bukan sekadar soal rasa. Ia merasakan sesuatu yang lebih dalam, tentang kebersamaan dan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ia melihat orang-orang saling berbagi makanan, anak muda membantu orangtua membawa belanjaan, dan senyum tulus yang mudah ditemui di setiap sudut.
“Saya suka suasana kota ini. Taman kotanya bersih, fasilitas publiknya
sangat baik,” ujarnya. (*)












