Lumajang, – Sebanyak 852 rumah di kompleks relokasi Bumi Semeru Damai (BSD), Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang dibiarkan kosong oleh pemiliknya. Padahal, hunian tetap tersebut dibangun pemerintah untuk para penyintas erupsi Gunung Semeru pada 2021 lalu.
Dari total 1.952 unit rumah yang tersedia, sebanyak 1.100 rumah di antaranya ditempati. Sisanya, 852 unit, kosong karena ditinggalkan penghuninya yang memilih kembali ke rumah lama di kawasan rawan bencana (KRB) III atau zona merah.
Camat Candipuro, Shela Fazri mengatakan, masih mendata ulang untuk memastikan jumlah pasti rumah yang tidak ditempati.
“Sekitar 1.100 yang terisi, sisanya kosong, tapi ini masih kita data lagi untuk memastikan jumlahnya,” katanya, Minggu (1/3/2026).
Kompleks BSD sebelumnya dibangun lengkap dengan fasilitas penunjang, mulai dari perabotan rumah tangga, sekolah, hingga masjid. Pemerintah berharap warga bisa menjalani kehidupan yang lebih aman dan layak di lokasi baru tersebut.
Namun, tidak semua penyintas memilih bertahan di hunian tetap.
Sejumlah warga kembali ke kampung lama karena faktor ekonomi. Mayoritas masih menggantungkan hidup pada lahan pertanian yang berada di sekitar permukiman terdampak erupsi. Jarak dari huntap ke kebun dinilai cukup menyulitkan dan menambah biaya transportasi harian.
Selain itu, faktor kedekatan emosional dengan kampung halaman juga menjadi alasan kuat. Tanah yang telah dihuni turun-temurun dianggap bukan sekadar tempat tinggal, tetapi bagian dari identitas keluarga.
Menanggapi banyaknya rumah kosong, Bupati Lumajang, Indah Amperawati menegaskan, rumah yang ditinggalkan akan ditarik kembali oleh pemerintah.
“Yang kosong kita akan tarik, banyak warga yang lebih membutuhkan dan mau untuk tinggal di sana,” kata Indah. (*)












