.Pasuruan,- Setelah aksi protes atlet yang menginjak piagam penghargaan viral di media sosial, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo memastikan akan merumuskan ulang kebijakan pemberian bonus dan berupaya mengembalikan nominalnya.

Jumlah bonus dijanjikan setara dengan nominal saat Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tikur sebelumnya melalui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan.

Adi Wibowo, yang akrab disapa Mas Adi, menjelaskan bahwa penyesuaian besaran bonus tidak terlepas dari kebijakan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat yang berdampak signifikan terhadap kapasitas fiskal daerah.

“Itu sebenarnya begini, secara alokasinya kita tahu semua TKD kita dikurangi cukup banyak dan prosesnya tidak tiba-tiba. Itu sudah dibahas juga di Tim Anggaran terkait alokasi,” kata Mas Adi, Jumat (27/2/2026).

“Namun karena ini sesuai dengan visi misi kita di konteks kepemudaan dan keolahragaan, maka di tahun ini melalui perubahan anggaran, kita akan mencoba memenuhi kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita sudah menghitung itu bersama Kepala Dispora dan KONI,” bebernya.

Menurutnya, keterbatasan anggaran memaksa pemerintah daerah menahan bahkan menunda sejumlah program prioritas.

Di sisi lain, kebutuhan pembinaan olahraga justru meningkat seiring bertambahnya jumlah cabang olahraga yang diikuti pada PORPROV IX.

“Kebutuhan memang di Porprov tahun 2025 ini cabor kita tambah banyak. Jadi alokasi anggarannya dibanding tahun sebelumnya juga lebih besar. Di saat yang sama, anggaran kita justru dikurangi. Hampir semua sektor terdampak, banyak program yang kita hold dan kita tunda,” jelasnya.

Kendati demikian, Mas Adi menegaskan bahwa pemerintah tetap menyerap aspirasi atlet dan pelatih, serta membuka peluang untuk memenuhi kekurangan bonus melalui mekanisme perubahan anggaran.

“Ini jadi kebutuhan dan tentu kita menyerap aspirasi dari berbagai pihak. Maka dimungkinkan nanti di perubahan akan kita penuhi. Karena ini proses konstruksi penganggaran yang sudah berjalan, tidak mungkin tiba-tiba kita tambah di tengah jalan,” papar Mas Adi.

Sebelumnya, pemangkasan bonus atlet PORPROV IX Jawa Timur 2025 memicu gelombang protes. Sejumlah atlet bahkan terekam menginjak piagam penghargaan sebagai bentuk kekecewaan atas nominal bonus yang dinilai tidak sebanding dengan perjuangan mereka.

Pada ajang kali ini, atlet peraih medali emas hanya menerima bonus Rp10 juta, jauh di bawah angka Rp30 juta yang diterima pada PORPROV VIII Jatim 2023.

Kondisi tersebut menuai kritik tajam dari berbagai cabang olahraga yang menilai kebijakan itu tidak sebanding dengan pengorbanan atlet, terlebih di tengah mahalnya biaya latihan dan peralatan yang sebagian besar masih harus ditanggung secara mandiri.

Para pelatih menilai, pemangkasan bonus berpotensi menurunkan motivasi atlet serta menghambat proses pembinaan jangka panjang. Mereka berharap pemerintah daerah lebih konsisten memberikan dukungan nyata agar prestasi olahraga Kota Pasuruan tetap terjaga.

Pada ajang PORPROV IX Jawa Timur 2025, kontingen Kota Pasuruan berhasil mengoleksi 36 medali, terdiri atas enam emas, tujuh perak, dan 23 perunggu.

Capaian tersebut dinilai sebagai peningkatan prestasi dibanding keikutsertaan sebelumnya, meski diwarnai keterbatasan dukungan anggaran. (*)

Editor: Moh Rois

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.