Pasuruan, – Pemerintah Kota Pasuruan menyerahkan reward kepada atlet dan pelatih berprestasi PORPROV IX Jatim 2025 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rabu (25/2/2026). Namun, acara apresiasi tersebut justru diwarnai badai kekecewaan lantaran kebijakan pemangkasan nilai bonus yang dinilai tidak sebanding dengan keringat para patriot olahraga di lapangan..

Kekecewaan para atlet dan pelatih ini bukan tanpa alasan. Insentif untuk peraih medali emas yang semula digadang-gadang bernilai puluhan juta rupiah, kini merosot tajam. Hal ini dinilai sebagai preseden buruk bagi masa depan pembinaan pemuda dan olahraga di Kota Pasuruan.

Bahkan, dalam video yang beredar luas di media sosial, tampak sejumlah atlet meluapkan rasa frustrasinya dengan aksi yang memprihatinkan. Mereka terlihat menginjak-injak piagam penghargaan sebagai bentuk protes keras atas nominal bonus yang dinilai tidak manusiawi.

Sekretaris cabang olahraga (cabor) IBC MMA Kota Pasuruan, Frenky Sutejo, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Padahal, cabor yang ia naungi merupakan salah satu lumbung medali dengan raihan 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Namun, prestasi gemilang itu seolah dipandang sebelah mata oleh pemerintah daerah.

“Jujur kami sangat kecewa karena nilainya jauh dari Porprov sebelumnya, padahal proses latihan intensif dilakukan lebih dari satu tahun,” tegas Frenky Sutejo.

Kritikan tak kalah pedas juga meluncur dari cabor Panahan. Pemangkasan bonus ini dianggap menjatuhkan harga diri atlet. Terlebih lagi, pemerintah seolah tutup mata terhadap mahalnya biaya peralatan panahan serta pengorbanan fisik yang harus dikeluarkan demi mengharumkan nama kota.

“Emas sekarang hanya dapat Rp10 juta, sama dengan bonus perunggu tahun 2023, ini benar-benar tidak menghargai perjuangan atlet,” ujar Pelatih Cabor Panahan Kota Pasuruan, Indah Yulianti.

Selain masalah bonus, karut-marutnya dukungan Pemkot juga terlihat dari ketidaksiapan anggaran. Banyak atlet potensial yang terpaksa gigit jari dan gagal berangkat ke arena Porprov hanya karena alasan ketiadaan dana. Sebuah kondisi yang dinilai sangat memalukan untuk ukuran pemerintah tingkat kota.

Jika komitmen kepala daerah terhadap kemajuan olahraga tidak segera dievaluasi, kondisi ini dikhawatirkan akan memicu eksodus besar-besaran. Atlet-atlet berprestasi asli Kota Pasuruan rawan dibajak dan memilih membela daerah lain yang lebih peduli pada nasib mereka.

“Kasihan atlet tidak ada harganya, bisa-bisa tahun depan mereka lari ke luar karena Pemkot tidak mendukung 100 persen,” jelas Indah.

Menanggapi gejolak tersebut, Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo atau yang akrab disapa Mas Adi, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh atlet dan pelatih atas nilai bonus yang tidak sesuai harapan.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Pasuruan, saya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh atlet dan pelatih apabila reward yang kami berikan belum sesuai harapan. Namun penghargaan ini kami berikan dengan penuh rasa hormat atas perjuangan panjenengan semua,” ungkap Mas Adi.

Mas Adi menjelaskan, pemangkasan ini terpaksa dilakukan karena Kota Pasuruan mengalami pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) serta dana bagi hasil dari pemerintah pusat pada tahun anggaran 2026. Kondisi ini membuat ruang fiskal daerah menjadi sangat terbatas.

“Ini bukan hanya dirasakan di sektor olahraga, tetapi juga berdampak pada program pembangunan lainnya. Beberapa agenda terpaksa kami tunda karena keterbatasan anggaran,” jelasnya.

Meski diterjang defisit anggaran, Mas Adi menegaskan pihaknya tetap berusaha memberikan perhatian bagi pembinaan olahraga.

“Pemerintah, KONI, pelatih, dan atlet harus terus bersinergi agar prestasi olahraga Kota Pasuruan dapat terus meningkat,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Pasuruan, total anggaran reward yang dikucurkan untuk ajang PORPROV Jatim IX 2025 ini mencapai Rp301.250.000.

Adapun rinciannya, untuk atlet perorangan peraih emas menerima Rp10 juta, perak Rp7,5 juta, dan perunggu Rp5 juta. Sementara bagi atlet beregu, emas diganjar Rp15 juta, perak Rp10 juta, dan perunggu Rp7,5 juta. Untuk posisi pelatih, apresiasi berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta sesuai raihan medali.

Pada ajang yang digelar di Malang Raya dan Kota Batu tersebut, Kota Pasuruan sebenarnya menunjukkan peningkatan kualitas prestasi meski dalam keterbatasan. Tercatat ada 217 atlet dan 42 pelatih dari 36 cabang olahraga yang berjuang membawa nama harum daerah di tingkat provinsi. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.