Lumajang, – Keterbatasan tak pernah menghalangi langkah Ahmad Fatoni untuk berprestasi. Pria 39 tahun asal Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang itu mengalami difabel netra sejak usia tujuh hari, setelah menjalani pengobatan akibat kejang dan demam saat balita.

Meski tak pernah melihat bentuk mushaf Al Quran, kecintaannya pada kitab suci itu tumbuh sejak kecil. Dalam gelap yang ia jalani seumur hidupnya, Fatoni justru menemukan cahaya melalui lantunan ayat-ayat suci.

“Kalau tidak bisa melihat sejak kecil, tapi memang dari kecil saya sudah senang sama Al Quran walaupun tidak pernah melihat bentuknya, hanya mendengar saja,” katanya, Selasa (24/2/2026).

Bermodal alat pemutar suara berbentuk persegi yang selalu digenggamnya, Fatoni belajar dengan cara mendengarkan bacaan Al Quran berulang-ulang. Dengan kemampuan pendengaran dan daya ingat yang kuat, ia menirukan setiap lafal hingga melekat dalam hafalannya.

“Karena saya enggak bisa baca, saya selalu bawa pemutar suara ini. Jadi saya dengarkan lafal dan liriknya lalu saya tirukan,” ucapnya.

Kini, dia telah memiliki lebih dari 22 lembaga TPQ maupun pondok pesantren di Kecamatan Pasirian dan Candipuro yang menjadi bimbingannya setiap pekan. Rutinitas ini sudah ditekuninya sejak belasan tahun lalu.

“Setiap hari dibonceng istri saya ke sana. Di sana, saya ngajar qiraah, istri saya nunggu di sebelah saya,” jelasnya.

Tak hanya berperan mengantar Fatoni mengajar, istrinya pun memiliki peran penting untuk mempertajam hafalan Al Quran-nya. Setiap waktu senggang, selalu digunakan untuk melantunkan ayat suci Al Quran agar tidak hilang dari ingatannya.

“Setelah saya dengarkan dari tape (pemutar musik), istri saya yang nyimak hafalan,” pungkasnya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.