Probolinggo,– Sebuah kuburan kuno yang berada di Dusun Karangasem, Desa Kamalkuning, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, hingga saat ini masih dikramatkan oleh masyarakat setempat.

Pasalnya, kuburan tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Kakek Calang, yang diyakini sebagai pembabat desa setempat.

Sarum (67) menceritakan, cerita turun-temurun dari keluarganya, pada saat membabat desa, tak sedikit rintangan yang harus dihadapi. Namun, bersama dengan para saudaranya yakni Kakek Juneng, Kakek Genjur, dan Kakek Nuruddin, Kakek Calang terus membabat desa.

“Sebelum penjajahan Belanda sudah ada Kakek Calang ini. Jadi di sini awalnya hutan, angker, banyak demit. Tapi kakek Calang berhasil membabatnya,” ujar Sarum, Jumat (4/4/2025).

Diantara beberapa rintangan yang harus dihadapi oleh Kakek Calang ketika membabat desa, pertarungannya melawan empat macam penguasa lokasi tersebut yang paling melegenda di kalangan masyarakat setempat.

Dari kontak batin yang dilakukan, Kakek Calang dapat mengetahui bahwa keempat macam tersebut tidak mengizinkannya untuk membabat lokasi tersebut menjadi desa.

Namun, Kakek Calang tetap memaksa untuk membabat lokasi tersebut agar bisa dijadikan pemukiman warga. Bahkan, dirinya bersedia mempertaruhkan nyawa.

Kakek Calang pun bersedia jasadnya dimakan oleh macam-macam tersebut. Dengan syarat, tak ada secuil pun bagian dari tubuh Kakek Calang yang disisakan. Hal itu pun disepakati oleh gerombolan macam itu.

“Tubuhnya sudah dimakan semuanya, namun ada sehelai rambut dari Kakek Calang yang tersisa, tidak dimakan. Hasilnya, Kakek Calang hidup lagi, dan malah macam-macam itu yang mati,” terang sesepuh desa ini.

Setelah dibabat, lambat laun daerah tersebut menjadi semakin ramai. Banyak penduduk luar yang datang untuk bermukim di desa tersebut.

Kakek Calang Meninggal

Pada saat Kakek Calang meninggal, warga pun langsung mengkramatkan makamnya. Sejumlah kejadian aneh tak jarang terjadi di makamnya itu.

Mulai dari burung yang terkapar jatuh akibat melintas di atas makamnya. Ada juga kuda yang mati mendadak akibat berkeliaran di area makamnya.

“Dulu pernah juga terjadi banjir di sini. Air dari sungai Rondoningo meluap. Anehnya, air banjir ini tak mau melewati apalagi menggenangi makamnya Kakek Calang, jadi hanya lewat di pinggirnya,” ungkap Sarum.

Sambil lalu mengusir ayam yang mematok padi yang sedang dijemurnya, Sarum melanjutkan ceritanya. Sepeninggal Kakek Calang, banyak warga yang menziarahi makamnya.

Bahkan tak jarang, sejumlah warga bersemedi di lokasi makamnya demi mendapatkan kesaktian yang dimiliki Kakek Calang.

Namun, beratnya ujian yang harus dihadapi. Para pesemedi tersebut harus mengalami kegagalan.

“Yang umum itu biasanya didatangi ular, besar sekali. Bahkan ada yang cerita, panjangnya itu seperti sepur (kereta api, red),” paparnya.

Kekeramatan makam Kakek Calang terus dijaga oleh masyarakat setempat hingga saat ini. Bahkan, setiap malam Jumat, suara toa dari sejumlah musholla setempat menempatkan nama Kakek Calang di urutan pertama yang dikirimi doa.

“Sebagai warga yang hidup di Kamalkuning, selayaknya memang jangan sampai lupa ke yang membabat desa,” ucapnya memungkasi. (*)


Editor: Mohammad S

Publisher: Keyra


Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.