Lumajang, – Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap berbagai kasus penganiayaan dan pelecehan terhadap anak, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengajak para pendidik untuk tetap menjaga semangat dan profesionalisme dalam menjalankan peran sebagai guru yang berpihak pada anak.

Menurut dia, situasi sosial yang berkembang saat ini menuntut para guru tidak hanya fokus pada aspek pengajaran akademik, tetapi lebih pada pendekatan emosional dan perlindungan terhadap anak sebagai peserta didik.

“Semoga terus semangat menjadi guru yang sahabat anak,” katanya, Jumat (15/5/2026).

Seto menyadari bahwa para pendidik saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan ekonomi keluarga yang kerap menjadi tekanan tersendiri dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Namun demikian, dalam kondisi tersebut tidak boleh mengurangi komitmen terhadap profesionalisme dalam mendidik anak.

“Kadang-kadang para guru juga harus berjuang dengan ekonomi keluarga dan sebagainya, tapi tetap mohon profesional menjadi guru sahabat anak,” katanya.

Kata dia, salah satu tantangan utama dalam dunia pendidikan saat ini justru datang dari aspek pengendalian emosi para pendidik di ruang kelas. Menurut dia, emosi yang tidak terkelola dengan baik dapat memengaruhi cara guru berinteraksi dengan siswa, terutama anak-anak yang membutuhkan pendekatan lebih sabar dan penuh empati.

“Nah, kendalanya untuk pendidikan, seperti sekarang ini apa? Ya, kendalanya kadang-kadang adalah emosi dari para pendidik,” ujarnya.

Untuk itu, Seto mengatakan, pihaknya akan membagikan panduan atau resep bagi para guru agar dapat menjadi pendidik yang lebih tenang, ramah, dan mampu menerapkan prinsip pendidikan berbasis kasih sayang.

Ia juga menyinggung pengalamannya panjang di dunia pendidikan sejak era 1970-an, mulai dari guru TK, PAUD, hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pengalaman tersebut, kata dia, menjadi dasar dalam memahami bahwa pendekatan lembut jauh lebih efektif dalam mendidik anak.

Dalam menghadapi anak dengan perilaku yang dianggap sulit, Seto menekankan pentingnya pendekatan sederhana namun berdampak, yakni menjaga ketenangan dan menghadirkan suasana positif di ruang belajar.

“Ada kiat-kiat kalau saya tahu, caranya ketika mengajari anak nakal, anak yang bandel itu ya kiatnya adalah senyum,” tuturnya.

Ia menyebut, prinsip tersebut juga pernah ia dapatkan dari tokoh pendidikan yang ia sebut sebagai Pak Kasur, yang menekankan pentingnya ekspresi ramah dalam mendidik anak.

“Bahasa Prancisnya, mesem. Itu yang diajarkan Pak Kasur kepada saya. Kalau mengajar anak-anak harus mesem,” kata Seto.

Menurut dia, senyum dalam proses pendidikan bukan sekadar ekspresi, tetapi juga mencerminkan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta kemampuan mengelola emosi secara positif.

Seto mengingatkan, para orangtua, khususnya ibu muda, untuk turut berperan sebagai sahabat anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Pendekatan emosional antara orangtua dan anak menjadi kunci penting dalam pembentukan karakter,” ucapnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pencegahan kekerasan terhadap anak, termasuk di ruang digital. Menurut dia, orangtua saat ini harus memiliki kemampuan literasi digital agar dapat mendampingi anak secara tepat.

“Orangtua juga harus sangat digital, cerdas digital, kemudian menjadi sahabat anak. Jadi bukan mengawasi, tapi mendampingi anak,” ujarnya.

Seto menambahkan, pola pengasuhan yang hangat dan penuh kedekatan akan membuat anak merasa nyaman di lingkungan keluarga. Sebaliknya, pendekatan yang terlalu keras dikhawatirkan dapat membuat anak menjauh secara emosional.

“Kalau anak didampingi dengan senyum, jadilah idola anak-anak. Jangan sampai anak-anak mengidolakan orang di luar, tapi membenci orang tuanya karena cara mendidiknya terlalu kasar,” pungkasnya. (*)

Editor: Ikhsan Mahmudi

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.