Probolinggo,- Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, meninjau langsung kondisi pintu Sentrifugal Dam di Desa Alassumur Kulon, Kecamatan Kraksaan, yang rusak parah, bahkan sebagian amblas, usai diterjang banjir, beberapa waktu lalu, Rabu (1/4/2026) pagi.

Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum bagi Gus Haris, sapaanya, untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya kesadaran kolektif menjaga lingkungan.

Di lokasi, tampak endapan sedimen bercampur sampah menyumbat aliran air, yang diduga kuat menjadi pemicu utama jebolnya pintu dam.

“Kerusakan bukan semata faktor alam, melainkan akumulasi sampah dan perilaku manusia yang mengabaikan ekosistem sungai,” terang Gus Haris.

Ia mengungkapkan, Dam Paker merupakan infrastruktur lama peninggalan kolonial Belanda yang hingga kini masih berfungsi sebagai penopang utama sistem irigasi pertanian di wilayah tersebut.

“Sebenarnya, ini adalah desain lama peninggalan Belanda, sudah sangat tua. Tapi saya akui desainnya keren, karena sistem sentrifugal ini mampu mengaliri beberapa jalur untuk mendukung ketahanan pangan di sawah-sawah kita,” ujarnya.

Edukasi Lingkungan

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kekuatan desain tersebut tidak akan mampu bertahan tanpa dukungan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, khususnya di sekitar aliran sungai dan dam.

“Hal penting yang ingin saya sampaikan, jangan hanya fokus pada tuntutan seberapa cepat penanganan pemerintah. Mari bersama-sama menjaga, karena pintu Dam Paker ini jebol akibat tumpukan sampah yang luar biasa,” beber Gus Haris.

Kerusakan Dam Paker berdampak langsung terhadap aliran irigasi yang mengairi lahan pertanian di sejumlah desa, diantaranya Desa Sumberlele, Tamansari, dan Alassumur Lor.

Kondisi ini memicu kekhawatiran petani, terutama di tengah kebutuhan air yang krusial untuk masa tanam. Gus Haris mengaitkan kondisi ini dengan kondisi infrastruktur lain di Kabupaten Probolinggo yang mengalami kendala serupa akibat faktor lingkungan.

Ia menyebut, sejak akhir 2025 hingga Maret 2026, sedikitnya 28 jembatan mengalami kerusakan, termasuk jalan yang amblas akibat jebolnya saluran air di bawahnya.

“Prinsip saya, membangun dan menjaga kabupaten ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah, harus ada kebersamaan. Mulai dari cara membuang sampah hingga perilaku di bantaran sungai, semua itu menentukan,” katanya.

Ia menjamin, pemerintah daerah akan terus berupaya melakukan perbaikan meskipun di tengah keterbatasan fiskal. Namun menurutnya, solusi jangka panjang justru terletak pada langkah preventif dan perubahan perilaku masyarakat.

“Kita akan terus mencari solusi dan melakukan perbaikan. Tapi kuncinya adalah bagaimana masyarakat memperlakukan alam dengan bijak. Jangan sampai penyesalan datang di belakang,” imbuh pria kelahiran 51 tahun silam ini.

Perbaikan Bertahap

Dalam kesempatan tersebut, Gus Haris menyampaikan bahwa proses penanganan pascabencana tidak bisa dilakukan secara instan dan serampangan.

Dikatakannya, diperlukan tahapan mulai dari asesmen teknis, perencanaan anggaran, hingga mekanisme administrasi pemerintahan sebelum pembangunan kembali dilakukan.

“Masyarakat harus memahami bahwa menyelesaikan persoalan seperti ini tidak sesederhana langsung membangun. Ada proses yang harus dilalui. Karena itu, ke depan upaya preventif adalah jalan terbaik,” jelasnya.

Usai peninjauan, Gus Haris menyempatkan diri menyapa warga terdampak dan berdialog santai di warung setempat bersama kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

 Bupati yang juga pengasuh pondok pesantren ini lantas menyerahkan bantuan paket sembako sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitar lokasi kejadian. (*)

Editor: Mohammad S

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.